oleh

MENGHILANGKAN “RASA PENJAJAH” UNTUK MASA DEPAN INDONESIA (74 TAHUN INDONESIA MERDEKA)

 


Oleh Dr. Iskandar, M.Hum
Dosen IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung.

 

 

 

OKEYBOZZ.COM , BANGKA BELITUNG -Kemerdekaan adalah hak segala bangsa, maka penjajahan tidak boleh berada di muka bumi. Begitu dahsyatnya stigma penjajahan bagi suatu bangsa sehingga ketika menyebut kata penjajah, maka akan muncul berbagai pandangan yang tidak baik dari berbagai sisi.

 

Demikian juga halnya dengan Indonesia yang merasakan tekanan baik secara fisik maupun ekonomi serta martabat diri pribadi pun ikut runtuh yang dirasakan cukup lama sebagai akibat dari penjajahan.

Jauh sebelum Indonesia muncul sebagai negara seperti sekarang ini, maka ada kekuatan VOC yang pada saat itu eksis keberadaannya di nusantara sebagai sebuah company yang menguasai bahan rempah nusantara yang dibutuhkan oleh masyarakat dunia, hingga dapat membangun kekuatan di nusantara. Oleh karena itulah  VOC memiliki hak octroi yang diberikan oleh Belanda. Dengan hak tersebut VOC bebas memonopoli perdagangan, mengedarkan dan mencetak uang, perjanjian dengan raja-raja, mendirikan  benteng, memberhentikan dan mengangkat penguasa-penguasa di nusantara dan sebagainya. Namun pada akhirnya VOC runtuh disebabkan oleh korupsi dan tipu muslihat yang terjadi di daerah-daerah tanpa kontrol dari kantor pusatnya.

 

Manisnya rempah dan sumber daya alam lainnya, menjadikan nusantara sebuah putri ayu nan cantik disenangi semua orang. Atas dasar hal tersebut maka nusantara menjadi tujuan utama untuk dikuasai sekelompok pedagang rempah dunia, jadilah dalam sejarah tercatat nusantara berada dalam konteks pejajahan selama 350 tahun.

 

Lamanya berada dalam tekanan ini dirasakan sangat sakit oleh lintas generasi turun temurun silih berganti, bahkan sebagian bangsa ini keturunan pun ada yang tidak jelas ketika perempuan-perempuan nusantara menjadi bulan-bulanan sex dari penjajahan pada masa itu. Begitulah gambaran penjajahan, sehingga sangat membekas bagi bangsa Indonesia.

Dalam tapak sejarah penjajahan, bangsa ini telah terkooptasi berbagai persoalan dalam kehidupan masyarakat baik dari tingkatan atas hingga masyarakat terbawah. Persoalan sosial, harga diri hingga ekonomi. Usia 74 tahun tidaklah mudah ditempuh, kebebasan dan kemerdekaan pun mengalami berbagai rintangan. Afiliasi masyarakat pribumi dengan penjajah saat menginvasi negeri ini telah menjadi momok besar dalam kehidupan berbangsa selanjutnya.

Penjajahan yang begitu lama berakibat beberapa prilaku yang dilakukan seperti tipu muslihat, sikut sana sikut sini untuk memperkuat kelompok pribadi telah menjadi bagian warisan dari masa penjajahan yang tersisa saat ini.

Masyarakat yang menjadi kaki tangan pemerintah masa itu telah menjadikan bangsa kita tidak terpedaya, kepentingan pribadi telah menjadikan rakyat menyatukan dirinya dengan penjajah, sehingga keselamatan dirinya dan keluarga dijamin oleh penjajah yang melupakan keselematan bangsa Indonesia.

Indonesia telah merdeka dari penjajah, pembangunan di segala bidang juga dirasakan oleh bangsa ini, persatuan dari ujung sabang hingga merauke masih terjaga dengan baik hingga saat ini, hal itu disebabkan rakyat Indonesia masih menjaga rasa kebersamaan dalam membersamai Indonesia agar tetap utuh.

Disisi lain kita sadari adanya kesenjangan akselerasi pembangunan antara perkotaan dengan pedesaan. Kemajuan teknologi yang belum dapat dirasakan oleh semua rakyat Indonesia merupakan beberapa indikator pemerataan kemerdekaan yang masih perlu dilakukan pembenahan. Kita juga merasakan dalam beberapa waktu ini, hubungan sesama rakyat Indonesia seakan mengalami penurunan kebersamaan karena merasa adanya “penjajahan” dalam negeri sendiri.

Menguatnya kepentingan pribadi dan kelompok atas kepentingan bersama telah menjadikan bangsa ini sedikit merenggangkan persatuan. Sehingga memunculkan istilah kemerdekaan dengan versi yang baru, namun seiring waktu, setidaknya rasa penjajah yang mengakar oleh penjajahan harus dihilangkan. Bangsa ini membutuhkan keberlanjutan kemerdekaan yang mempersatukan semua aspek baik ras, suku, agama.

Para pahlawan telah mengorbankan dirinya untuk kemerdekaan ini baik harta maupun nyawa. Tentu akan menjadi sia-sialah perjuangan mereka jika setelah kemerdekaan ini ada sebagian anak bangsa saling menjajah sesama lainnya.
Melalui kemerdekaan RI ke 74 ini, setidaknya rasa penjajah yang berada dalam gelora semua elemen bangsa ini harus dilepaskan.

Kemerdekaan secara utuh untuk Indonesia kedepannya lebih diutamakan karena invasi asing mungkin bisa saja terjadi, namun tidak lagi dengan senjata, akan tetapi invasi asing dilakukan dengan metode baru sehingga tanpa disadari bangsa Indonesia sudah terjajah kembali. Oleh karenanya, semua elemen bangsa harus memperkuat persatuan dan kesatuan, elit politik harus memberi contoh bagi rakyat dengan tidak mempertontonkan drama perseteruan dalam membangun negeri ini.**

 

Editor : Adityawarman / okeybozz.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed