Lebih dari Sekadar Takaran: Tantangan Penerapan Pertanian Presisi dalam Penggunaan Pupuk di Bangka Belitung

waktu baca 3 menit
Senin, 18 Nov 2024 17:29 66 kina

OKEYBOZ.COM, OPINI — Pagi itu, di Desa Mendo, saya bertemu dengan seorang petani, Pak Juhadi yang sedang membuka kemasan pupuk. Dengan tangannya yang terampil, ia menebar pupuk itu seperti yang diajarkan ayahnya bertahun-tahun lalu. “Sudah biasa, dari dulu begini,” katanya. Namun, saya juga bertanya dan dia mengungkapkan bahwa hasil panennya tidak sebanding dengan usaha kerasnya. Tak ada yang salah dengan cara tradisional, tapi di era yang sudah maju ini, teknologi memiliki solusi yang tepat untuk permasalahan tersebut: pertanian presisi.

Mengapa Pertanian Presisi Penting untuk Bangka Belitung?

Bangka Belitung, memiliki banyak tanah yang mengandung bahan mineral, hal tersebut menjadi salah satu potensi dalam mengembangkan sektor pertanian. Namun, efektivitas penggunaan pupuk masih menjadi tantangan. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa produktivitas padi di Bangka Belitung tahun 2023 hanya mencapai 4,5 ton per hektar, lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional sebesar 5,1 ton per hektar, salah satu penyebab utamanya adalah penggunaan metode pemupukan tradisional. Petani sering menggunakan dosis “kira-kira,” dengan genggaman tangan sebagai takaran. Ini mengakibatkan dosis pupuk yang tidak merata, sehingga tanah menjadi kurang subur atau justru tercemar oleh kelebihan atau kekurangan pupuk.

Apa Itu Pertanian Presisi dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Menurut Kementerian Pertanian, pertanian presisi adalah sistem pertanian yang mengintegrasikan strategi manajemen dan teknologi yang mengefisienkan penggunaan sumber daya untuk mendapatkan hasil maksimal dan mengurangi dampak buruk terhadap kelestarian lingkungan. Dalam konteks pemupukan, teknologi ini menggunakan sensor, drone, atau dengan perhitungan untuk menentukan dosis pupuk yang tepat sesuai kebutuhan tanah dan tanaman.

Di Bangka Belitung, upaya penerapan pertanian presisi masih terbatas. Ada juga beberapa kelompok tani yang telah mencoba menggunakan drone pemantau tanaman dan perhitungan keperluan untuk menentukan pola pemupukan. Hasilnya? Tentu saja efisiensi penggunaan pupuknya meningkat hingga 25%, dan produktivitas naik 15% .

Penerapan Pertanian Presisi

Meskipun manfaatnya jelas, tantangan utama penerapan pertanian presisi di Bangka Belitung adalah:

  1. Biaya Teknologi

Teknologi seperti drone dan sensor tanah membutuhkan investasi awal yang signifikan. Petani kecil mengalami kesulitan untuk menggunakan perangkat tersebut tanpa bantuan dari pemerintah atau pihak swasta.

  1. Kurangnya Pengetahuan

Banyak petani masih tidak memahami atau belum familiar dengan teknologi presisi. Diperlukan pelatihan dan pendampingan yang intensif agar mereka dapat menggunakannya secara efektif.

  1. Infrastruktur Terbatas

Penggunaan aplikasi berbasis data real-time terhambat oleh ketidakstabilan sinyal internet di sejumlah wilayah.

Bagaimana Kita Bisa Membantu Para Petani?

Untuk mengatasi tantangan ini, kolaborasi antara pemerintah, universitas, dan swasta sangat penting. Beberapa langkah yang dapat diambil meliputi:

  • Pemberian Subsidi Teknologi

Subsidi untuk pembelian alat pertanian presisi tentunya hal tersebut akan meringankan beban petani.

  • Pelatihan dan Pendampingan

Mahasiswa pertanian khususnya prodi agroteknologi di Universitas Bangka Belitung dapat berperan sebagai mentor teknologi untuk petani lokal.

  • Pengembangan Infrastruktur Digital

Perbaikan akses internet di daerah pedesaan akan mendukung penerapan teknologi berbasis aplikasi.

Ketepatan dalam pemberian dosis pupuk sangat vital untuk keberhasilan pertanian. Di Bangka Belitung, penggunaan pertanian presisi dapat menjadi solusi untuk meningkatkan produktivitas dan melestarikan kesuburan tanah. Namun, untuk mewujudkannya, diperlukan kerjasama dari berbagai pihak. Dengan menggabungkan teknologi dan kearifan lokal, kita dapat meningkatkan pertanian di Bangka Belitung ke tingkat yang lebih baik. Apakah kita sudah siap menghadapi tantangan ini dan mendukung petani lokal agar mencapai potensi terbaiknya?

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    error: Content is protected !!