
Editor: Wan
OKEYBOZ.COM, PANGKALPINANG – Kota Pangkalpinang pernah dikenal luas sebagai “Kota Beribu Senyuman”, sebuah ikon yang melekat kuat selama lima tahun terakhir masa kepemimpinan Maulana Aklil atau yang akrab disapa Bang Molen.
Senyuman yang bukan hanya menjadi jargon, melainkan telah menjelma sebagai identitas keramahtamahan dan kedekatan emosional antara pemerintah dan warganya.
Namun kini, satu tahun setelah kepemimpinan Bang Molen berakhir, senyuman itu terasa mulai memudar. Warga kota perlahan merasakan pergeseran suasana, dari yang dahulu akrab dan responsif menjadi lebih kaku dan jauh dari sentuhan personal.
“Beda dengan zaman Pak Molen,” ujar Ibu Nani, seorang pedagang kecil di Pasar Pagi Pangkalpinang, Senin (3/6/2025). “Kami merasa dekat, seperti punya wali kota yang memang hadir dan mendengarkan. Bukan hanya pas acara-acara formal, tapi benar-benar turun langsung.”
Bukan hanya pedagang pasar, warga muda seperti Rendy (27) pun merasakan hal serupa. Ia menilai kondisi tata kota saat ini kehilangan greget. “Trotoar dulu rapi, taman-taman hidup, kota terasa segar. Sekarang lihat saja Taman Dealova, seperti tidak terurus,” katanya.
Salah satu program unggulan Bang Molen yang masih dikenang adalah Mobil Sampah Pink—simbol nyata perhatian pada kebersihan dan estetika kota—dan Satgas Smile, yang menjadi ujung tombak pelayanan cepat tanggap di setiap kelurahan. Namun, sejak masa kepemimpinan berakhir, program-program ini seolah jalan di tempat. Tidak ada penambahan armada, tidak ada penyegaran strategi.
“Dulu pemukiman padat bisa disulap jadi lingkungan sehat. Pasar tradisional direvitalisasi. Sekarang, seperti jalan sendiri-sendiri,” ucap Pak Haris, warga Bukit Intan.
Warga juga menilai suasana sosial selama lima tahun masa kepemimpinan Bang Molen lebih guyub. Kesan “dekat dan tidak berjarak” bukanlah retorika, tapi dirasakan nyata.
“Pak Molen sering hadir di acara warga, tanpa protokoler berlebihan. Ada rasa aman, nyaman, dan bangga. Seakan pemerintah itu benar-benar hadir di tengah-tengah kami,” ungkap Iskandar (43), warga Taman Sari.
Seiring mendekatnya Pilkada 2025, suara kerinduan itu semakin menguat. Warga berharap suasana Pangkalpinang yang penuh senyum dan keterbukaan bisa kembali. Tidak sekadar wajah baru, mereka ingin pemimpin yang sudah teruji mampu menyatukan visi pembangunan dengan sentuhan kemanusiaan.
“Bukan soal siapa yang paling pandai pidato, tapi siapa yang paling cepat datang saat rakyat butuh,” kata Ucok, pemuda Kecamatan Gerunggang. “Dan itu ada pada Pak Molen.”
Sebagian masyarakat menilai bahwa Bang Molen bukan hanya sukses secara infrastruktur dan pelayanan publik, tapi juga sebagai pemimpin yang mampu menciptakan sense of belonging—rasa memiliki terhadap kota. Di bawah kepemimpinannya, kota ini tak hanya dibangun secara fisik, tapi juga dirawat secara emosional.
Kini, bayang-bayang senyuman masa lalu itu menjadi harapan baru bagi masa depan Kota Pangkalpinang. Warga tak hanya merindukan nama, tetapi merindukan rasa—rasa nyaman, rasa aman, dan rasa dihargai.
Kota ini pernah tersenyum bukan karena baliho besar bertuliskan slogan, tetapi karena kebijakan-kebijakan kecil yang menyentuh. Senyuman itu hadir dari trotoar yang diperbaiki, pasar yang dibersihkan, keluhan warga yang langsung ditindaklanjuti, hingga tamu daerah yang merasa seperti di rumah sendiri saat singgah di Pangkalpinang.
Kini, di tengah kelesuan suasana kota, senyuman itu dipanggil kembali. Sosok Bang Molen kembali dielu-elukan, bukan karena nostalgia semata, tapi karena realita yang membuat warga bertanya-tanya: apakah senyuman itu bisa kembali mekar, bila pemimpinnya kembali hadir?
📌 Catatan Redaksi:
Bang Molen, selama masa jabatannya sebagai Wali Kota Pangkalpinang 2018–2023, dikenal dengan gaya blusukan, kecepatan respon terhadap aduan masyarakat, dan komitmen pada pembangunan berbasis kebutuhan nyata warga. Kini, jelang kontestasi politik 2025, banyak mata kembali tertuju padanya. Bukan hanya sebagai figur politik, tapi sebagai harapan yang pernah menjadi nyata. (Okeyboz)
Tidak ada komentar