
Gunawan, Jurusan Agribisnis, Universitas Bangka Belitung
BANGKA BELITUNG, OKEYBOZ.COM – Rumah Memarong merupakan salah satu warisan budaya dari masyarakat adat di Bangka Belitung, khususnya dari Suku Mapur yang tinggal di wilayah Belinyu, Kabupaten Bangka. Rumah ini tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga melambangkan cara hidup, pola pikir, serta nilai-nilai yang dipegang masyarakat adat sejak dulu. Di tengah kemajuan zaman dan pesatnya pembangunan modern, keberadaan rumah Memarong menjadi pengingat penting bahwa kemajuan tidak selalu harus berarti meninggalkan tradisi. Justru, budaya seperti inilah yang bisa menjadi identitas kuat bagi daerah, karena di balik kesederhanaannya tersimpan filosofi tentang kehidupan yang selaras dengan alam dan sesama manusia.

Secara fisik, rumah Memarong memiliki bentuk panggung dengan ukuran sekitar lima kali lima meter. Lantainya terbuat dari kayu ibul, dindingnya dari kulit kayu, dan atapnya dari daun nipah atau rumbia. Yang menarik, seluruh bagian rumah ini dibangun tanpa menggunakan paku, hanya dengan ikatan rotan dan pasak kayu. Hal itu menunjukkan betapa kuatnya pengetahuan masyarakat adat dalam memanfaatkan bahan-bahan alami di sekitar mereka. Mereka tidak hanya membangun rumah, tetapi juga menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.
Selain sebagai tempat tinggal, rumah Memarong memiliki nilai sosial dan budaya yang tinggi. Setiap bagian dari rumah memiliki makna tersendiri, misalnya tiang-tiang yang melambangkan anggota keluarga. Dari situ kita bisa melihat bahwa rumah Memarong bukan hanya bangunan fisik, tetapi juga lambang kebersamaan dan keharmonisan hidup masyarakat adat. Nilai-nilai seperti saling menghargai, gotong royong, dan hidup sederhana tercermin jelas dalam cara rumah ini dibangun dan digunakan. Menurut saya, hal ini juga bisa menjadi pelajaran bagi generasi muda saat ini, bahwa kemajuan teknologi dan modernisasi tidak boleh membuat kita melupakan akar budaya yang membentuk jati diri bangsa.
Kini, rumah Memarong mulai dikenal luas karena dijadikan kawasan wisata budaya di Desa Gunung Muda, Belinyu. Hal ini tentu menjadi langkah baik untuk memperkenalkan warisan budaya kepada masyarakat luar sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi warga setempat. Melalui kegiatan wisata, masyarakat bisa mendapatkan manfaat ekonomi tanpa harus meninggalkan identitas budayanya. Rumah Memarong juga bisa menjadi sarana edukasi bagi generasi muda untuk belajar tentang sejarah dan tradisi lokal.
Namun, pelestarian rumah adat ini juga menghadapi tantangan. Ketika budaya dijadikan objek wisata, sering kali makna aslinya bisa berkurang karena hanya dilihat dari sisi keindahan luarnya. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk tetap menjaga nilai-nilai budaya yang ada di balik rumah Memarong. Wisata budaya seharusnya tidak hanya menonjolkan tampilan, tetapi juga mengajarkan penghargaan terhadap kearifan lokal dan kehidupan masyarakat adat.
Dengan menjaga dan melestarikan rumah Memarong, kita sebenarnya sedang menjaga jati diri Bangka Belitung. Rumah ini adalah bukti bahwa masyarakat lokal memiliki kebijaksanaan dalam hidup berdampingan dengan alam. Sebagai mahasiswa, saya merasa penting untuk ikut peduli terhadap pelestarian budaya seperti ini. Rumah Memarong bukan hanya peninggalan masa lalu, tetapi juga cerminan tentang bagaimana nilai-nilai tradisi bisa menjadi dasar untuk membangun masa depan yang lebih berkelanjutan, berkarakter, dan tetap berpijak pada akar budaya sendiri.
Tidak ada komentar