Team Radak Babel berkunjung ke Rumah Izha serta memberikan bantuan, (dok : Radak/Ist) PANGKALPINANG, OKEYBOZ.COM — Masa kecil seharusnya menjadi waktu paling indah dalam kehidupan seorang anak. Berlari bersama teman, bermain hingga sore, tertawa tanpa beban, dan pulang ke rumah membawa cerita bahagia. Namun, tidak semua anak diberi kesempatan menikmati masa kecil seperti itu.
Bagi Muhammad Izha Al Husen, bocah berusia 11 tahun, hari-hari masa kecilnya harus dijalani dengan keterbatasan akibat gangguan saraf motorik yang dialaminya.
Ketika anak-anak seusianya bebas berlarian mengejar permainan dan menikmati dunia mereka, Izha harus berjuang menghadapi kondisi kesehatan yang membatasi geraknya selama bertahun-tahun.
Di kediamannya di Jalan Patin 1, Kelurahan Rejosari, Kecamatan Pangkalbalam, Kota Pangkalpinang, tersimpan kisah perjuangan yang mungkin tidak banyak diketahui orang.
Di sana, ada seorang anak yang masih memiliki masa depan panjang untuk diperjuangkan. Ada keluarga yang terus mendampingi, memberikan perhatian, dan berusaha memenuhi kebutuhannya di tengah perjalanan yang tidak mudah.
Izha masih berusia 11 tahun. Usia ketika seharusnya dunia terasa luas, menyenangkan, dan penuh kesempatan untuk bermain. Namun, sebagian hari-harinya harus dijalani dengan keterbatasan yang tidak dipilihnya sendiri.
Tak mudah membayangkan perjuangan yang harus dilalui sebuah keluarga ketika melihat anak yang dicintainya mengalami gangguan kesehatan. Perhatian, waktu, tenaga, dan kesabaran menjadi bagian dari keseharian yang harus terus dijaga.
Di balik setiap kebutuhan yang harus dipenuhi, ada perjuangan keluarga yang mungkin tidak selalu terlihat. Di balik setiap hari yang berlalu, ada harapan agar keadaan menjadi lebih baik.
Mereka mungkin tidak selalu menceritakan kesulitan yang dihadapi. Namun, bukan berarti perjalanan itu ringan.
Sebab, merawat seorang anak yang membutuhkan perhatian khusus bukan hanya soal memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada tanggung jawab yang terus berjalan, ada kekhawatiran yang mungkin datang silih berganti, dan ada harapan yang tetap dipeluk meski keadaan tidak selalu mudah.
Kamis Siang, Radak Babel Datang Membawa Kepedulian
Kamis (22/10/2026) siang, rumah Izha kedatangan rombongan jurnalis Radak Babel.
Kunjungan itu bukan sekadar perjalanan untuk melihat langsung kehidupan seorang anak yang sedang berjuang menghadapi keterbatasan. Rombongan tersebut datang membawa bantuan dan kepedulian bagi Izha serta keluarganya.
Rombongan dipimpin langsung CEO Radak Babel, La Ode M. Murdani, didampingi HRD Radak Doli Fartolosa Lubis, Katim Investigasi Radak Iwan Carlos, Penasihat Hukum Radak Babel Gerry Detriyadi, serta Yuda, Nawang, dan Vanisa selaku staf dan admin Radak Babel.
Mereka membawa kursi roda, susu, pampers, dan sejumlah kebutuhan lainnya untuk membantu memenuhi keperluan Izha sehari-hari.
Bagi sebagian orang, bantuan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi keluarga yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan seorang anak dengan kondisi kesehatan tertentu, perhatian seperti ini memiliki arti tersendiri.
Sebuah kursi roda bukan sekadar barang yang diserahkan. Di dalamnya ada harapan agar aktivitas Izha dapat terbantu dan menjadi lebih mudah.
Susu dan pampers bukan sekadar kebutuhan sehari-hari. Keduanya menjadi bagian dari perhatian terhadap kebutuhan seorang anak yang masih membutuhkan pendampingan.
Dan kunjungan itu membawa pesan yang lebih dalam: bahwa di tengah perjuangan yang dijalani, masih ada orang-orang yang bersedia datang, melihat, dan mengulurkan tangan.
Bantuan tersebut tentu tidak serta-merta menghilangkan gangguan kesehatan yang dialami Izha. Tidak pula menyelesaikan seluruh kebutuhan yang harus dipenuhi keluarganya.
Namun, kepedulian tidak selalu harus menunggu sampai seseorang mampu menyelesaikan semua persoalan.
Terkadang, bantuan kecil yang diberikan dengan tulus bisa menjadi pengingat bahwa sebuah keluarga tidak sepenuhnya berjalan sendirian. Bahwa di luar rumah mereka, masih ada orang yang peduli.
Bahwa di tengah kehidupan yang terus berjalan, masih ada hati yang tergerak ketika melihat sesama membutuhkan pertolongan.
Sebab, bagi mereka yang sedang berjuang, kehadiran seseorang yang peduli bisa menjadi penguat untuk kembali melangkah.
La Ode M. Murdani: Jurnalis Bukan Hanya Menulis, tetapi Juga Harus Memiliki Kepedulian
CEO Radak Babel, La Ode M. Murdani, mengatakan kegiatan sosial tersebut tidak hanya melibatkan keluarga besar Radak Babel, tetapi juga mendapat dukungan dari sejumlah mitra.
Menurutnya, kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan telah menjadi bagian dari kegiatan sosial Radak Babel. Kegiatan itu meliputi bantuan pembangunan masjid, rumah layak huni, penyaluran sembako, hingga perhatian kepada anak-anak yang menghadapi persoalan kesehatan.
“Kami datang bukan untuk menunjukkan bahwa kami hebat. Kami hanya ingin sedikit membantu mengurangi beban keluarga Izha,” ujar La Ode.
Baginya, profesi jurnalis tidak semestinya berhenti pada aktivitas mencari informasi, menulis berita, dan menyampaikan persoalan masyarakat kepada publik. Ada nilai kemanusiaan yang harus tetap hidup di tengah pekerjaan tersebut.
Menurut La Ode, ketika melihat langsung masyarakat yang membutuhkan pertolongan, kepedulian sebaiknya tidak berhenti pada kata-kata. Jika memiliki kemampuan untuk membantu, sekecil apa pun bantuan itu, hendaknya dapat diupayakan.
“Jurnalis bukan hanya bertugas memberikan informasi dan memublikasikan berita. Ketika kita melihat ada masyarakat, terutama anak-anak yang membutuhkan bantuan, sebisa mungkin kita ikut membantu,” katanya.
La Ode juga menyampaikan harapannya agar kondisi Izha dapat membaik dan keluarganya diberikan kekuatan dalam menjalani setiap proses perawatan.
“Tugas kita hanya membantu mengurangi beban keluarga Izha. Kami juga berdoa adik kami ini bisa pulih dari sakit yang ia derita selama ini,” ucapnya.
Harapan itu disampaikan tanpa janji berlebihan. Sebab, tidak semua kesulitan dapat diselesaikan dalam satu kunjungan, dan tidak semua perjuangan bisa berakhir secepat yang diharapkan.
Namun, ada sesuatu yang tetap bisa diberikan: perhatian, bantuan, doa, dan kesediaan untuk tidak berpaling dari mereka yang membutuhkan.
Masa Kecil Izha Tetap Berharga, Meski Dijalani dengan Keterbatasan
Kisah Izha bukan semata tentang seorang anak yang membutuhkan kursi roda, susu, pampers, dan berbagai kebutuhan lainnya.
Lebih dari itu, kisah ini mengingatkan kita bahwa setiap anak berhak mendapatkan perhatian, kasih sayang, dan kesempatan untuk menjalani kehidupan sebaik mungkin, apa pun kondisi yang dihadapinya.
Izha tetaplah seorang anak berusia 11 tahun. Ia memiliki hari-hari yang harus dijalani, kebutuhan yang perlu dipenuhi, dan masa depan yang layak diperjuangkan.
Keterbatasan yang dialaminya tidak mengurangi nilai kehidupannya. Kondisi kesehatannya bukan alasan bagi siapa pun untuk melupakan bahwa ia juga membutuhkan lingkungan yang peduli dan mendukung.
Di balik perjuangan Izha, ada keluarga yang terus mendampinginya. Mereka membutuhkan dukungan bukan hanya ketika bantuan datang, tetapi juga dalam perjalanan panjang setelah kunjungan berakhir.
Sebab, kepedulian yang sesungguhnya bukan hanya tentang datang sekali, menyerahkan bantuan, kemudian melupakan. Kepedulian juga berarti tetap mengingat bahwa kebutuhan dan perjuangan seseorang tidak berhenti ketika sebuah kegiatan sosial selesai.
Di sekitar kita, mungkin ada keluarga lain yang mengalami keadaan serupa. Ada anak-anak yang membutuhkan perhatian, orang tua yang berjuang memenuhi kebutuhan keluarganya, serta orang-orang yang memilih diam karena tidak ingin merepotkan orang lain.
Tidak semua orang yang kesulitan mampu meminta pertolongan. Tidak semua keluarga sanggup menceritakan beban yang mereka pikul.
Karena itu, sesekali tengoklah keadaan orang-orang di sekitar kita. Jangan sampai kesibukan mengejar kehidupan sendiri membuat kita lupa bahwa ada sesama yang membutuhkan uluran tangan.
Kita mungkin tidak mampu menyelesaikan seluruh persoalan mereka. Kita mungkin tidak bisa mengubah keadaan dalam sekejap.
Namun, kita selalu bisa memulai dengan hal sederhana: bertanya, mendengarkan, menemani, atau memberikan bantuan sesuai kemampuan.
Jangan Biarkan Perjuangan Mereka Berjalan Sendirian
Kunjungan Radak Babel ke rumah Izha menjadi pengingat bahwa kepedulian tidak harus menunggu seseorang memiliki kekayaan berlimpah atau kemampuan besar.
Kadang-kadang, kepedulian dimulai dari keinginan sederhana untuk membantu sesama yang sedang membutuhkan.
Kursi roda, susu, pampers, dan kebutuhan lainnya mungkin tidak mampu menjawab seluruh persoalan yang dihadapi Izha. Namun, bantuan itu menjadi bentuk perhatian yang diharapkan dapat meringankan sebagian kebutuhannya.
Bagi Izha, perjalanan hidup masih panjang. Ia masih membutuhkan perawatan, pendampingan, dan dukungan dari orang-orang di sekitarnya.
Bagi keluarganya, perjuangan juga belum selesai. Hari esok akan kembali membawa kebutuhan dan tanggung jawab yang harus dijalani.
Karena itu, kisah ini bukan hanya tentang siapa yang datang membawa bantuan, melainkan juga tentang bagaimana masyarakat dapat terus menumbuhkan kepedulian kepada anak-anak yang membutuhkan perhatian.
Jangan menunggu seseorang benar-benar tidak memiliki apa-apa untuk mulai peduli. Jangan menunggu sebuah keluarga kehilangan kekuatan untuk menawarkan bantuan.
Sebab, di balik pintu rumah yang tampak sederhana, bisa jadi ada perjuangan panjang yang tidak pernah diceritakan kepada siapa pun.
Dan di balik seorang anak yang sedang berjuang menghadapi keterbatasan, ada harapan yang tidak seharusnya dibiarkan padam.
Izha mungkin tidak bisa menikmati masa kecil dengan cara yang sama seperti anak-anak lainnya. Namun, ia tetap berhak merasakan hangatnya perhatian, tulusnya kasih sayang, dan hadirnya orang-orang yang bersedia membantunya.
Karena pada akhirnya, ukuran kemanusiaan bukan terletak pada seberapa banyak yang kita miliki, melainkan pada seberapa besar kepedulian yang mampu kita berikan kepada sesama. (Radak)
Tidak ada komentar