Oleh: Tri Indrayati, M.Pd.OKEYBOZ.COM, OPINI — Pernahkah melihat siswa-siswi SMP atau SMA membawa gawai? Bahkan siswa SD sudah membawa gawai setiap harinya. Penggunaan gawai tidak tidak lepas dari kehidupan sehari-hari, mulai dari siswa sekolah hingga pekerja kantoran dan ibu rumah tangga. Kemudahan mengakses internet melalui gawai juga menjadi candu dalam kehidupan.
Berbagai provider bersaing menyediakan layanan internet yang murah meriah dan dengan harga yang bersaing. Tapi apakah kemudahan mengakses internet sejalan dengan proses pembentukan karakter terutama bagi warga negara muda.
Pengguna internet juga berasal dari macam generasi di era sekarang ini. Urutan generasi umumnya mengacu pada kelompok orang yang lahir dalam rentang waktu tertentu dan berbagi pengalaman sejarah, sosial, dan teknologi yang serupa.
Berikut adalah urutan generasi yang sering digunakan dalam studi demografi dan budaya, meskipun rentang tahun bisa bervariasi tergantung pada sumbernya:
Generasi Kecil (Silent Generation): Lahir sekitar 1928–1945. Mereka tumbuh dewasa selama periode pasca-Perang Dunia II dan sering dianggap sebagai generasi yang konservatif dan memprioritaskan stabilitas.
Baby Boomers: Lahir sekitar 1946–1964. Generasi ini dikenal karena peningkatan kelahiran setelah Perang Dunia II dan mengalami perubahan sosial besar, seperti gerakan hak sipil dan revolusi budaya 1960-an.
Generasi X: Lahir sekitar 1965–1980. Mereka sering digambarkan sebagai generasi yang mandiri dan skeptis, tumbuh dalam era transisi teknologi dan ekonomi global.
Generasi Y (Millennial): Lahir sekitar 1981–1996. Generasi ini dikenal dengan keterampilan teknologi yang baik dan mengalami perkembangan pesat dalam internet dan media sosial.
Generasi Z: Lahir sekitar 1997–2012. Mereka adalah generasi pertama yang sepenuhnya tumbuh dengan internet dan teknologi digital, serta sering dikenal sebagai digital natives.
Generasi Alpha: Lahir dari sekitar 2013 hingga saat ini. Generasi ini merupakan generasi yang paling muda dan tumbuh dalam lingkungan yang sangat terhubung secara digital.
Generasi z dan alpha adalah generasi yang paling dekat dengan internet, tumbuh dan berkembang dengan kemudahan akses internet. Mudahnya dalam mengakses internet menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua dan pendidik dalam melindungi gen z dan alpha dari dampak negatif internet, beragam media dan konten yang tidak sesuai umur menjadi cikal bakal degradasi moral. Menurut Kemendikbud RI terdapat 18 nilai karakter yang harus di kembangkan: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial.
Keleluasaan gen z dan alpha mengakses internet menjadi pekerjaan rumah bagi orang tua dan pendidik untuk membantu mereka memfilter informasi yang diterima. Beragam platform media sosial seperti Instagram, tiktok, youtube, X dan sebagainya menjadi wajib hukumnya bagi gen z dan alpha dalam bermedia sosial. Beberapa media sosial seperti X yang notabene adalah miniblog sangat rawan akan konten negatif apabila tidak dapat menyaring informasi yang akurat dan juga sangat rentan dengan konten pornografi. Topik teratas di linimasa sering kali dimanfaatkan untuk mengangkat topik lain yang negatif. Hal ini mempengaruhi gen z dan juga alpha terbawa pada hal yang negatif. Apabila memiliki nilai karakter yang sudah ditanamkan sejak dini bagi gen z dan alpha setidaknya akan melindungi mereka dari pengaruh buruk.
Terkadang konten yang tidak sesuai dengan usia mereka menjadi makanan mereka sehari-hari. Tentu dampak negatif dan dari konten akan sangat mempengaruhi pola pikir mereka, ketidak hati-hatian dalam menyaring informasi akan memudahkan mereka menerima berita hoax, sehingga menimbulkan opini yang hanya dari satu sisi. Hal ini dapat menyebabkan kekeliruan mereka dalam bersuara dan apabila penyampaian cenderung mengarah intimidasi atau merugikan maka akan melanggar UU ITE.
Selain itu juga terjadinya degradasi moral pada gen z dan alpha karena nilai-nilai karakter yang ditanamkan di sekolah dan juga di rumah tergerus dengan dampak negatif media sosial yang di salah gunakan. Setidaknya terdapat beberapa nilai karakter yang harus tertanam pada diri gen z dan alpha agar tidak terbawa arus negatif dari internet. Peran pemerintah dan orangtua menjadi sangat penting dalam membangun gen z dan alpha menjadi generasi emas yang dicita-citakan. Penguatan nilai karakter dan penanaman nilai karakter dari sekolah dan rumah harus terus dikuatkan bagi gen z dan alpha karena dengan karakter yang tertanam gen z dan alpha akan sedikitnya masih berpegangan pada nilai dan norma yang berlaku di Masyarakat.
Namun tidak menutup mata jika platform media sosial juga memberikan pengaruh positif dan edukatif. Hal ini lah yang harus kita pilah dan arahkan kepada gen z dan alph agar penggunaan internet menjadi bermanfaat. Pemerintah wajibnya mendukung penanaman nilai karakter dengan lebih ketat dalam memblokir situs-situs ataupun konten yang memberikan dampak negatife kepada generasi muda Indonesia. Khawatirnya jika pemerintah lambat maka lebih banyak konten negatif yang nantinya gen z dan alpha krisis terhadap nilai moral dan karakter. Dampak negatif ini akan berpengaruh besar pada kehidupan bermasyarakat Indonesia kelak.
Hilangnya rasa hormat kepada orang yang lebih tua, ketidaksadaran dalam bersopan santun dalam bertur kata dan juga bertindak serta kasus kriminal yang meningkat sekarang ini, menjadi peringatan keras yang harus kita atasi bersama. Baik dari orangtua, pendidik, dan juga pemerintah untuk melindungi dan menumbuhkan generasi z dan alpha menjadi generasi emas yang Indonesia cita-citakan.
Sumber
, oleh Pusat Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional, 2010
Tidak ada komentar