Perahu Baru, Tapi Sudah Retak di Tengah Haluan, Babel Butuh Perahu yang Kokoh, Meski Sederhana

waktu baca 2 menit
Kamis, 24 Jul 2025 11:18 84 Admin

Foto : Ilustrasi.

 

Penulis: Adityawarman.  (Wartawan okeyboz.com).

OKEYBOZ.COM, BANGKA BELITUNG —Apa gunanya perahu baru, jika dari awal lunasnya sudah retak? Apa artinya perubahan, jika nahkoda dan wakilnya tak seirama menatap kedepan.

Inilah pertanyaan yang bergema di tengah masyarakat Bangka Belitung hari ini.

Belum genap tiga bulan dilantik, duet pemimpin tertinggi Bangka Belitung sudah memamerkan ketidakharmonisan.

Saling sindir di media, tarik-ulur pernyataan publik, hingga perbedaan sikap dalam pengambilan keputusan, semua menjadi tontonan yang tak hanya menyedihkan, tapi juga memalukan.

Masyarakat menaruh harap besar pada duet ini, seolah melihat perahu baru yang siap membawa negeri ini berlayar menuju perubahan.

Tapi apa daya, jangkar belum sepenuhnya terangkat, gelombang sudah datang bukan dari luar, melainkan dari bilik kemudi sendiri.

Sejarah telah mengajarkan, bahwa tidak ada kapal yang selamat jika dua nahkoda saling tarik kemudi.

Dalam kearifan Melayu, “perahu takkan lurus jika nakhodanya dua arah.” Tapi yang lebih mengkhawatirkan, ini bukan hanya soal arah, tapi soal retaknya fondasi kepercayaan di antara keduanya.

Perahu bisa tenggelam bahkan sebelum jauh berlayar. Dan dalam politik, yang tenggelam bukan hanya kapal, tapi juga kepercayaan rakyat.

Kita tak sedang kekurangan masalah di Babel mulai dari pengangguran, kesenjangan ekonomi, hingga kerusakan lingkungan.

Tapi ironis, alih-alih bersatu menghadapinya, pemimpin kita justru sibuk mempertebal ego dan memperuncing friksi. Publik bukan lagi disuguhi narasi pembangunan, melainkan drama personal dan rebutan panggung kekuasaan.

Ini bukan sekadar konflik individu. Ini adalah krisis kepercayaan.
Dan jika dibiarkan berlarut, akan tumbuh jadi bara yang membakar sendi-sendi pemerintahan.

Pesan kami jelas: duduklah kembali satu meja, bicaralah sebagai dua orang dewasa yang diberi amanah besar.

Ini bukan soal siapa lebih senior, siapa lebih vokal, siapa lebih populer. Ini soal siapa yang lebih mau menundukkan ego demi kemaslahatan rakyat.

Sebab dalam sejarah pemerintahan, yang dikenang bukan yang bersuara paling nyaring, tapi yang berani memeluk perbedaan demi persatuan.

Jangan tunggu perahu ini karam dan baru sadar, bahwa perahu yang retak di haluan bisa diselamatkan jika ada niat memperbaiki, bukan membiarkan pecah seluruh lambung.

Babel tidak butuh perahu mewah yang mudah karam. Babel butuh perahu yang kokoh, meski sederhana selama awaknya saling percaya, dan tahu kapan harus mendayung bersama.(okeyboz)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    error: Content is protected !!