
Laporan: Radak Babel
SUNGAILIAT, OKEYBOZ.COM – Di balik pengakuan terang-terangan bahwa penitipan pasir timah dilakukan untuk menghindari sorotan media, muncul satu nama yang justru semakin gelap dan misterius: Pak Sudayat, sosok yang disebut langsung oleh sopir sebagai penanggung jawab utama muatan timah.
Nama ini bukan sekadar pelengkap cerita. Dalam setiap pertanyaan kunci soal asal-usul, legalitas, hingga tanggung jawab 10 ton pasir timah, Pak Sudayat selalu disebut, namun tak pernah hadir.
Pengakuan mengejutkan datang dari Ronal, pria yang mengaku sebagai Danru PT MSP. Ia secara terbuka menyatakan bahwa pasir timah sengaja dititipkan ke Gudang Besar Timah (GBT) Sungailiat untuk menghindari media, bahkan mengklaim langkah itu atas arahan Satgasus PT Timah.
“Maaf, kami menitipkan pasir timah ini ke GBT untuk menghindari media. Kenapa media bisa masuk?” ujar Ronal kepada Tim Radak Babel, Selasa (30/12/2025) sekitar pukul 23.30 WIB.
Pernyataan ini bukan hanya mencederai prinsip keterbukaan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana media dan publik diposisikan sebagai ancaman, bukan pengawas kepentingan negara.
Pak Sudayat: Penanggung Jawab Tanpa Wajah
Kejanggalan kian menguat saat truk bermuatan pasir timah melintas pada malam hari, sekitar pukul 19.30 WIB, meski PT MSP diketahui telah tutup operasional sejak 14 Desember 2025.
Saat diperiksa di pos penyekatan, sopir menyebut satu nama sebagai penanggung jawab: Pak Sudayat.
Namun di titik krusial inilah masalah muncul. Pak Sudayat tidak bisa dihadirkan, tidak bisa dihubungi, bahkan nomor teleponnya tidak diketahui.
“Katanya penanggung jawab Pak Sudayat, tapi orangnya nggak muncul, nomor HP pun nggak ada,” ungkap sumber di lapangan.
Pertanyaannya sederhana namun serius: bagaimana mungkin 10 ton pasir timah bergerak tanpa penanggung jawab yang jelas dan bisa dimintai keterangan?
Upaya konfirmasi berlanjut ke internal MSP, mulai dari Bu Desi hingga Pak Subari. Namun tak satu pun mampu menghadirkan Pak Sudayat atau menjelaskan posisinya secara terang. Jalan pintas pun diambil: pasir timah dititipkan ke GBT sambil menunggu klarifikasi—klarifikasi yang hingga kini tak kunjung datang.
10 Ton Timah, IUP Gelap, Tanggung Jawab Kabur
Muatan yang diamankan mencapai 345 kampil atau sekitar 10 ton pasir timah. Namun hingga berita ini diturunkan, asal IUP pasir timah tersebut tidak diketahui.
“Untuk IUP-nya sendiri, kami belum tahu,” ujar sumber pemeriksaan.
Ironisnya, di tengah kekosongan dokumen dan ketiadaan penanggung jawab yang bisa dimintai pertanggungjawaban, justru muncul nama lain: Chris dan Edy Saputra. Nama-nama ini bukan berasal dari dokumen resmi, melainkan kembali dari keterangan sopir, yang sejak awal konsisten menunjuk Pak Sudayat sebagai penanggung jawab utama.
Publik pun patut bertanya:
Apakah Pak Sudayat hanya nama untuk mengaburkan jejak, atau memang sosok kunci yang sengaja disembunyikan?
Satgasus, Aparat, dan Pertanyaan yang Tak Dijawab
Pantauan Tim Radak Babel hingga pukul 23.30 WIB menunjukkan sedikitnya 5 petugas MSP dan 4 petugas keamanan PT Timah berjaga di sekitar GBT.
Pengamanan ketat ini justru menambah tanda tanya:
yang dijaga sebenarnya pasir timah, atau rahasia di balik pergerakannya?
Lebih serius lagi, pengakuan bahwa penitipan dilakukan demi menghindari media—dengan membawa-bawa nama Satgasus PT Timah—menjadi alarm keras bagi publik.
Jika benar ada arahan menjauhkan aktivitas timah dari pengawasan, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar prosedur, melainkan integritas tata kelola timah nasional.
Jika penanggung jawab seperti Pak Sudayat tak bisa dihadirkan, asal IUP tak bisa dijelaskan, dan media justru dihindari, maka kecurigaan publik bukan tanpa alasan.
Hingga berita ini diterbitkan, keberadaan Pak Sudayat, legalitas asal pasir timah, serta peran sesungguhnya Satgasus PT Timah masih gelap.
Aparat penegak hukum dan manajemen PT Timah didesak membuka secara terang siapa Pak Sudayat sebenarnya, dalam kapasitas apa ia bertanggung jawab, dan mengapa namanya selalu muncul tanpa wujud.
Sebab dalam urusan komoditas negara bernilai strategis, yang paling berbahaya bukan hanya timah ilegal, tetapi tanggung jawab yang sengaja dibuat tak bernama dan tak bertuan.
Tim Radak Babel telah berupaya mengonfirmasi Humas PT MSP, Desi, pada Selasa (30/12/2025) sekitar pukul 23.30 WIB, namun hingga berita ini dinaikkan belum memberikan respons.
(OB,Rdk)
Tidak ada komentar