
PANGKALPINANG, OKEYBOZ.COM — Anggota DPRD Elvi Diana, S.E., M.M. menggelar reses untuk menjaring aspirasi masyarakat secara langsung pada Jum’at, (15/5/2026). Warga menyampaikan berbagai permasalahan, mulai dari kelangkaan bahan bakar minyak bersubsidi, keterbatasan akses permodalan usaha kecil, kerusakan infrastruktur jalan, hingga konflik pemanfaatan lahan dan lingkungan hidup.
Keluhan pertama disampaikan oleh Pak Yunus, seorang warga, yang mengadukan kesulitan mendapatkan solar bersubsidi. Menurutnya, pasokan solar di wilayah tersebut sangat lambat sehingga masyarakat terpaksa membeli di pasar gelap dengan harga mencapai Rp 20.000 per liter, jauh di atas harga subsidi. Ironisnya, surat rekomendasi pembelian solar telah lama diajukan namun belum juga ditindaklanjuti oleh pihak berwenang.
“Solar lama datangnya, sekitar satu bulan. Masyarakat terpaksa beli mahal, Rp 20.000 per liter, sementara surat rekomendasinya sudah lama diajukan,” ujar Pak Yunus.
Aspirasi selanjutnya disampaikan oleh Bu Ardila yang memohon akses permodalan melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk menopang usaha dagangnya. Dalam keterangannya, Bu Ardila masih menjalankan usaha kecil-kecilan dengan berjualan menggunakan sepeda, sehingga dukungan modal sangat ia butuhkan agar usahanya bisa berkembang.
Disisi lain, Rizky Hamdani sebagai perangkat desa mempertanyakan kejelasan terkait program Kampung Nelayan Merah Putih. Ia bertanya apakah kawasan tersebut akan menjadi hak penuh masyarakat dan apakah programnya terbatas hanya bagi nelayan atau terbuka untuk seluruh warga desa.
Permasalahan terkait infrastruktur turut mendominasi reses kali ini. Seorang Warga bernama Suriman menyoroti kondisi jalan dan jembatan di ruas Tempilang menuju Tanjung Niur yang telah rusak selama bertahun-tahun. Kerusakan semakin parah lantaran jalan tersebut merupakan ujung kampung yang buntu, sehingga tidak mendapat perhatian yang memadai dari pemerintah.
Sementara itu, Hendri selaku perangkat desa menyampaikan kebutuhan fasilitas olahraga bagi pemuda. Diketahui, Lapangan sepak bola dan voli yang ada saat ini kondisinya tidak memadai. Disaat hujan turun, lapangan berubah menjadi becek dan tidak bisa digunakan. Hendri pun mengusulkan agar lahan desa yang digunakan sebagai lapangan dibuat lebih tinggi dengan pondasi berupa batu bata serta semen sekitar 20 truk pasir (dengan estimasi harga Rp 500.000 per truk) agar lapangan bisa digunakan berkepanjangan.
Anggota DPD, Warianto turut membawa aspirasi pemuda yang ingin berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi desa. Ia menyebutkan banyak pemuda berminat mengembangkan usaha keramba ikan di sungai, yang apabila dikelola dengan baik akan menjadi sumber pendapatan asli desa yang signifikan.
Berbagai aspirasi juga disampaikan oleh Sahari. Ia menyampaikan tiga persoalan sekaligus: pertama, konflik pemanfaatan lahan di kawasan Hutan Produksi (HP) yang digunakan untuk kebun kelapa sawit, termasuk sekitar lima hektar yang ditanami sawit di lahan bakau. Kebun kelapa sawit milik desa pun kini terbengkalai karena kondisi tanah yang tidak lagi mendukung.
Kedua, Sahari mempertanyakan kontribusi perusahaan-perusahaan yang beroperasi di wilayah tersebut terhadap pendapatan desa. Ketiga, ia menyoroti permasalahan di Tanjung Niur, khususnya tambak udang vaname yang perlu ditinjau ulang karena pembuangan limbah dari sekitar tujuh perusahaan diduga telah merusak ekosistem dan mematikan habitat laut setempat.
Seluruh aspirasi yang disampaikan warga ditampung dalam reses ini dan menjadi catatan resmi Anggota DPRD Elvi Diana, S.E., M.M. untuk ditindaklanjuti kepada instansi-instansi terkait di tingkat kabupaten maupun provinsi.
Reses ini diadakan sebagai mekanisme penting dalam sistem demokrasi perwakilan, di mana anggota legislatif turun langsung ke konstituen untuk memastikan suara rakyat tersampaikan dalam proses pengambilan kebijakan.
Tidak ada komentar