Saparudin: Bangun Ekosistem Pengelolaan Sampah, Targetkan Tujuh TPS3R pada 2027

waktu baca 3 menit
Kamis, 3 Sep 2026 18:55 8 wiwik okeyboz

PANGKALPINANG, OKEYBOZ.COM — Pemerintah Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, mempercepat pembangunan ekosistem pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir dengan memperbanyak fasilitas pengolahan sampah berbasis masyarakat melalui tempat pengolahan sampah reduce, reuse, recycle (TPS3R).

Wali Kota Pangkalpinang, Saparudin mengatakan penguatan fasilitas pengelolaan sampah menjadi bagian dari program Pangkalpinang Bersih dan Indonesia Asri yang membutuhkan dukungan serta kolaborasi berbagai pemangku kepentingan, termasuk badan usaha milik negara (BUMN).

“Kita sedang membangun ekosistem pengolahan sampah. Tahun ini ada lima TPS3R dan mudah-mudahan pada 2027 bisa bertambah dua lagi sehingga menjadi tujuh,” kata Saparudin saat serah terima bantuan tempat sampah CSR BNI di halaman Rumah Dinas Wali Kota Pangkalpinang, Kamis Sore (3/9/2026).

Ia menjelaskan, pada 2026 terdapat satu unit TPS3R yang diperoleh dari Kementerian Pekerjaan Umum di kawasan Air Kepala Tujuh. Selain itu, Pemkot Pangkalpinang akan merevitalisasi dua TPS3R yang berada di Genas dan Ketapang.

Pemkot juga berharap dukungan PT Timah untuk penambahan satu fasilitas TPS3R sehingga pada akhir 2026 ditargetkan terdapat lima TPS3R yang dapat mendukung pengolahan sampah di wilayah tersebut.

“Untuk 2027 kita programkan dua lagi. Mudah-mudahan terpenuhi sehingga untuk pengolahan sampah bisa kita selesaikan,” ujarnya.

Menurut Saparudin, pembangunan TPS3R tersebut merupakan bagian dari sistem pengelolaan sampah yang dirancang tidak hanya mengandalkan tempat pembuangan akhir (TPA).

Sampah yang telah dipilah dan diolah di TPS3R akan menghasilkan residu yang kemudian diarahkan ke tempat pengolahan sampah terpadu (TPST).

Saparudin, memperkirakan residu dari proses pengolahan di TPS3R berada di kisaran 30 persen. Dengan kapasitas pengolahan 10 ton sampah, misalnya, sekitar tiga ton menjadi residu yang selanjutnya dikirim ke TPST untuk ditangani lebih lanjut.

“Jadi residu daripada TPS3R rata-rata sekitar 30 persen. Kalau kapasitasnya 10 ton, berarti tiga ton residunya. Ini yang akan kita kirim ke TPST,” tuturnya.

Di sisi lain, Pemkot Pangkalpinang mulai melakukan penataan terhadap TPA dengan menutup bagian-bagian yang sudah tidak lagi digunakan untuk pembuangan sampah.

Area TPA yang sudah pasif tersebut direncanakan ditata dan dihijaukan kembali, sementara area yang masih aktif tetap digunakan sembari pemerintah menyiapkan fasilitas pengolahan lanjutan.

Saparudin mengatakan pembangunan sistem tersebut diharapkan dapat mengubah pola pengelolaan sampah Pangkalpinang dari sekadar mengangkut dan membuang menjadi mengurangi, memilah, mengolah, dan menangani residu secara terpadu.

“TPA yang posisinya pasif, artinya tidak ada lagi pembuangan di situ, akan kita tutup dan kita jadikan hutan. Sementara di bagian yang masih ada aktivitas, kita sambil membangun TPST,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Pemkot Pangkalpinang juga menerima bantuan 15 set tempat sampah dari BNI melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan (CSR). Bantuan tersebut akan ditempatkan di sejumlah fasilitas publik untuk mendukung kebiasaan memilah sampah.

Saparudin mengapresiasi dukungan BNI dan berharap kolaborasi serupa diperluas kepada mitra lainnya, terutama untuk mendukung penyediaan sarana pemilahan sampah di ruang publik dan sekolah.

“Kita memang bersinergi dan berkolaborasi dengan stakeholder. Mudah-mudahan ini bertambah lagi dari mitra-mitra kita yang lain,” ucapnya.

Pemkot Pangkalpinang menargetkan fasilitas pemilahan sampah di ruang publik dan sekolah dapat berjalan seiring dengan pengembangan TPS3R dan TPST sehingga persoalan persampahan dapat ditangani melalui satu sistem yang saling terhubung.(OB/W*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    error: Content is protected !!