Foto : IlustrasiSUNGAILIAT, OKEYBOZ.COM – Ketika aktivitas warga Jelitik mulai mereda dan malam memasuki waktu istirahat, Kawasan Industri Air Kantung justru tampak belum sepenuhnya terlelap.
Lampu kendaraan berat masih terlihat bergerak, suara mesin terdengar dari kejauhan, sementara kepulan asap disebut warga muncul dari arah tungku pengolahan.
Aktivitas itu, menurut sejumlah warga, berlangsung ketika siang hari justru relatif lengang.
Yang menjadi sorotan adalah aktivitas yang disebut terjadi di sekitar Smelter PT ATD Makmur Mandiri, Jelitik, Kabupaten Bangka.
Warga menduga kegiatan pengolahan kembali berlangsung pada malam hari, bahkan hingga dini hari.
“Kalau siang sepi, kayak tidak ada aktivitas. Tapi malam truk keluar masuk, suara mesin kedengaran. Sudah beberapa minggu ini polanya begitu,” ujar seorang warga Jelitik yang meminta identitasnya dirahasiakan, Rabu (16/9/2026).
Pola siang sepi, malam ramai inilah yang kemudian memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat.
Mengapa aktivitas justru disebut terlihat pada malam hari? Apa material yang dibawa masuk? Dari mana asal bahan bakunya? Dan apakah seluruh rangkaian kegiatan tersebut telah mengantongi legalitas yang dipersyaratkan?
Pertanyaan-pertanyaan itu belum memperoleh jawaban dari pihak manajemen PT ATD Makmur Mandiri.
Ketika Malam Menjadi Titik Pertanyaan
Keterangan warga menyebut aktivitas kendaraan dan suara mesin mulai terdengar sekitar pukul 20.00 WIB dan berlangsung hingga dini hari.
Informasi tersebut tentu masih membutuhkan pembuktian lebih lanjut. Namun, bagi warga sekitar, aktivitas malam hari bukan sesuatu yang luput dari perhatian.
“Kalau malam baru kelihatan aktivitas. Kami sebagai warga hanya bisa melihat dari luar. Tidak tahu apa yang diproses di dalam,” kata sumber lainnya.
Kondisi tersebut menjadi semakin menarik perhatian karena nama PT ATD Makmur Mandiri sebelumnya pernah muncul dalam rangkaian penanganan perkara tata kelola timah.
Pada 10 Februari 2025, Kejaksaan Agung diketahui pernah melakukan pemeriksaan terkait perkara PT Refined Bangka Tin. Direktur PT ATD berinisial LS disebut diperiksa sebagai saksi dalam perkara tersebut.
Di tengah proses hukum kasus tata niaga timah yang menyeret banyak perusahaan dan pihak, warga kemudian mempertanyakan status Smelter ATD.
Di tingkat masyarakat, muncul julukan “smelter misterius”. Bukan karena keberadaan fisiknya tidak diketahui, tetapi karena warga mempertanyakan mengapa aktivitasnya masih menjadi tanda tanya, sementara nama perusahaan tersebut pernah muncul dalam pusaran perkara timah.
Bahan Baku Juga Dipertanyakan
Persoalan lain yang muncul bukan hanya mengenai kapan smelter tersebut beroperasi, tetapi juga apa yang dilebur di dalamnya.
Sejumlah sumber menduga terdapat material timah yang masuk ke lokasi tersebut pada malam hari. Namun, asal-usul material tersebut belum dapat dipastikan secara independen.
Salah satu sumber tertutup menyebut adanya informasi mengenai sekitar 75 ton material yang disebut telah diekspor setelah melalui proses peleburan di ATD.
Sumber tersebut juga menduga sebagian material berasal dari sumber yang tidak memiliki keterkaitan dengan IUP yang sah.
Namun, informasi tersebut merupakan klaim sumber yang masih memerlukan verifikasi dan pembuktian oleh aparat berwenang.
Jika benar terdapat kegiatan pengolahan dan pengiriman logam timah, maka pertanyaan berikutnya menjadi lebih besar: apakah seluruh proses tersebut dilakukan melalui rantai pasok dan prosedur perdagangan yang sesuai dengan ketentuan?
Pekerja dari Luar Daerah
Sorotan warga juga mengarah pada tenaga kerja. Sejumlah warga menyebut banyak pekerja di lokasi tersebut berasal dari luar Bangka. Bahkan ada informasi yang menyebut sebagian pekerja berasal dari Lampung.
“Pekerjanya banyak dari luar, katanya dari Lampung. Orang lokal jarang yang diajak kerja di situ. Makanya kami tidak tahu persis apa yang dilebur di dalam,” ujar warga.
Keterangan ini juga masih membutuhkan konfirmasi dari perusahaan dan verifikasi lapangan. Namun bagi masyarakat sekitar, minimnya informasi mengenai aktivitas perusahaan justru menambah ruang spekulasi.
Hak Jawab Belum Terjawab
Untuk memastikan informasi tersebut berimbang, konfirmasi telah diupayakan kepada manajemen PT ATD Makmur Mandiri.
Pertanyaan yang diajukan antara lain mengenai status dan legalitas operasional, aktivitas malam hari, asal bahan baku, tenaga kerja, serta dugaan pengiriman atau ekspor produk timah.
Hingga berita ini diturunkan, manajemen PT ATD Makmur Mandiri belum memberikan jawaban.
Pemilik yang dikenal dengan panggilan Amen juga telah beberapa kali dikonfirmasi untuk memberikan hak jawab. Namun, menurut wartawan, nomor telepon yang digunakan untuk melakukan konfirmasi kemudian diblokir. Sikap tersebut membuat sejumlah pertanyaan publik tetap menggantung.
APH dan Inspektur Tambang Diharapkan Turun
Di tengah kasus besar tata niaga timah yang sedang menjadi perhatian publik, aktivitas sebuah smelter pada malam hari tentu tidak semestinya hanya menjadi cerita dari mulut ke mulut.
Jika benar terjadi kegiatan peleburan pada malam hari, aparat berwenang memiliki kewenangan untuk memastikan apakah kegiatan tersebut sesuai dengan perizinan dan ketentuan yang berlaku.
Sebaliknya, apabila seluruh aktivitas tersebut ternyata legal dan memiliki dokumen yang lengkap, klarifikasi resmi perusahaan juga penting agar tidak muncul persepsi negatif di tengah masyarakat. Publik membutuhkan kepastian, bukan dugaan.
Karena itu, aparat penegak hukum, Inspektur Tambang, serta instansi teknis terkait diharapkan dapat memeriksa secara terbuka status kegiatan PT ATD Makmur Mandiri. (Radak)
Tidak ada komentar