Api Mengintai Babel, 94 Kebakaran Terjadi Sepanjang September

waktu baca 3 menit
Senin, 5 Okt 2026 17:11 2 dika okeyboz

PANGKALPINANG, OKEYBOZ.COM – Bangka Belitung tak hanya dilanda kemarau, tetapi juga kepungan api. Sepanjang 2026, kasus kebakaran tercatat mengalami lonjakan signifikan, terutama saat memasuki Agustus dan September ketika kondisi kering semakin memperbesar risiko kebakaran.

Kepala Seksi Pemetaan, Standardisasi Sarana dan Prasarana Kebakaran dan Pertolongan Satpol PP Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Riyanto Adipurwo, mengatakan peningkatan mulai terlihat sejak pertengahan tahun.

Menurutnya, pada Juni dan Juli jumlah kejadian yang ditangani Damkar Pemprov masih relatif terbatas. Namun, angka tersebut meningkat menjadi 56 kejadian pada Agustus dan mencapai 94 kejadian pada September.

“Juni dan Juli baru mulai naik. Agustus 56 kebakaran, September 94. Jadi memang baru mulai kelihatan peningkatannya,” kata Riyanto.

Riyanto menyebut peningkatan kasus kebakaran pada 2026 sangat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan, kenaikannya disebut telah mencapai lebih dari 100 persen.

“Kalau dibandingkan 2025, meningkat. Bukan berapa persen lagi, lebih dari 100 persen. Tahun 2025 tidak sampai segitu, tidak sampai 50. Sekarang sudah ratusan dari Agustus-September,” ujarnya.

Kondisi serupa juga terjadi di sejumlah kabupaten. Riyanto menyebut wilayah Bangka, Bangka Barat, Bangka Tengah hingga Bangka Selatan turut menghadapi tingginya kasus kebakaran. Di Kabupaten Bangka, misalnya, tercatat sekitar 200 kejadian kebakaran sejak 1 Juli hingga pertengahan Agustus.

Untuk wilayah yang menjadi kewenangan Damkar Pemprov, penanganan lebih banyak berada di Pangkalpinang dan wilayah perbatasan, seperti Kampung Dul, Kampung Padang Baru hingga kawasan Lintas Timur.

Riyanto menjelaskan, sebagian besar kebakaran yang terjadi merupakan kebakaran lahan. Penyebabnya didominasi aktivitas pembakaran sampah yang kemudian tidak terkendali akibat kondisi cuaca panas dan angin kencang.

Menurutnya, masyarakat terkadang membakar sampah tanpa memperhitungkan kondisi lingkungan sekitar. Ketika rumput dan ilalang dalam kondisi kering, tiupan angin dapat membuat api dengan cepat menjalar ke area yang lebih luas.

“Pada umumnya kebakaran lahan itu kesalahan manusia juga. Masyarakat bakar-bakar, kondisi cuaca panas, angin kencang. Rumput sudah kering, ditiup angin api langsung menjalar,” katanya.

Ia menegaskan, kebakaran tersebut umumnya bukan terjadi karena masyarakat sengaja membuka lahan. Sebagian besar justru berawal dari aktivitas pembakaran yang tidak diawasi hingga api merembet.

Riyanto juga memastikan sejauh ini tidak terdapat korban jiwa akibat kejadian kebakaran yang ditangani pihaknya. Namun, kebakaran lahan tetap menjadi persoalan serius karena api dapat menyebar dengan cepat.

Sejumlah lokasi di Pangkalpinang dan sekitarnya juga disebut cukup sering mengalami kebakaran lahan, di antaranya Temberan, Pasir Padi, Ketapang dan kawasan Lintas Timur.

“Kalau dulu daerah Temberan, Pasir Padi paling sering. Kemudian Ketapang dan Lintas Timur. Banyak lahan yang sudah dibebaskan kemudian ditumbuhi belukar, rumput dan ilalang. Itu yang mudah terbakar,” jelasnya.

Selain faktor manusia, Riyanto mengatakan kondisi iklim turut memengaruhi peningkatan kejadian kebakaran pada 2026. Tahun ini, kondisi cuaca dinilai jauh lebih panas dan kering dibandingkan 2025 yang memiliki curah hujan lebih tinggi.

“2025 itu La Nina, curah hujan tinggi. Sekarang El Nino Godzilla, panas. Tahun ini memang lebih panas dari biasanya,” katanya.

Menghadapi kondisi tersebut, Damkar mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan membakar sampah, terutama saat angin bertiup kencang.

Riyanto meminta warga mengumpulkan sampah terlebih dahulu dan memastikan lokasi pembakaran jauh dari rumput kering, ilalang maupun material lain yang mudah terbakar.
“Kalau ingin membakar sampah, hati-hati. Jangan dekat rumput dan segala macam yang mudah terbakar. Kalau angin kencang, jangan membakar,” tegasnya.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh pembakaran sampah. Sebab, dalam waktu yang sama kebakaran dapat terjadi di beberapa lokasi sekaligus, sementara jumlah armada pemadam terbatas.

“Pada saat hari dan jam yang sama bisa beberapa tempat sekaligus, sedangkan kita armada terbatas,” pungkasnya. (Yuda Boy/Radak)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    error: Content is protected !!