
Oleh: Komarudin (Mahasiswa semester II Universitas Bangka Belitung jurusan akuntansi)
OKEYBOZ.COM, Bangka Selatan— Stunting merupakan masalah yang sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup seorang anak, karena menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak akibat kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu panjang, yang ditandai dengan panjang atau tinggi badannya di bawah standar. Dampaknya, anak-anak yang mengalami masalah stunting akan memiliki kemampuan kognitif, motoric dan intelektual yang rendah, serta daya tahan tubuh rentan akan terserang penyakit. Secara tidak langsung hal tersebut akan menurunkan kualitas sumber daya manusia secara umum.
Kabupaten Bangka Selatan merupakan salah satu Kabupaten yang mengalami dampak cukup besar terhadap maraknya gejala stunting. Banyak balita atau anak di daerah Bangka Selatan yang mengalami gejala gizi kronis atau kekurangan gizi yang ditandai dengan tinggi badan yang lebih pendek dibandingkan dengan anak seusianya. Selain itu, anak yg mengalami gejala stunting juga akan lebih rentan terhadap penyakit dan bisa mempengaruhi tingkat kecerdasan anak.
Hal ini sebenarnya disebabkan oleh beberapa faktor yang mengakibatkan terjadinya gejala stunting yaitu seperti, pola asuh yang kurang tepat, asupan gizi anak yang belum mencukupi atau belum memenuhi gizi seimbang, penyakit anemia yang terjadi pada Ibu hamil dan yang paling utama adalah tingginya pernikahan dini di daerah Bangka Selatan.
Pernikahan dini yang terjadi akibat kurangnya pengetahuan terhadap usia ideal untuk menikah bagi seorang laki-laki ataupun seorang perempuan yang akhirnya menyebabkan anak yang lahir mengalami gejala stunting. Hal inilah yang terjadi di daerah Banka Selatan, maraknya pernikahan dini yang diakibatkan oleh banyak faktor.
Seperti, kurangnya pengawasan orang tua terhadap anak, pergaulan yang terlalu bebas seorang remaja, banyaknya anak sekolah yang melakukan hubungan pacaran, sehingga banyak remaja yang hamil di luar nikah dan diharuskan menikah walaupun dengan usianya yang belum ideal untuk menikah.
Hal inilah yang akhirnya jadi permasalahan karena belum adanya kesiapan dari kedua belah pihak baik itu secara fisk, mental maupun finansial.
Gejala stunting yang terjadi di daerah Bangka Selatan pada tahun 2022 sempat mengalami penurunan pada angka prevalensi stunting sebesar 2,58 persen dari 4,7 persen pada tahun 2021.
Penurunan prevalensi stunting di Bangka Selatan tidak berlangsung lama karena pada saat itu juga bencana alam di Indonesia yaitu covid-19 terjadi melanda masyarakat Indonesia yang akhirnya juga berdampak besar terhadap kegiatan masyarakat dan banyak masyarakat yang mengalmi kerisis perekonomian yang menyebabkan daya beli masyarakat menurun, shingga berdampak pada asupan gizi yang kurang.
Dengan banyaknya terjadi gejala stunting yang disebabkan bukan hanya dari pernikahan dini saja akan tetapi juga pada asupan gizi yang kurang atau tidak seimbang membuat sumber daya manusia yang seharusnya bisa jadi SDM yang membuat perubahan lebih baik terhadap kemajuan negara terutama di daerah Bangka Selatan, malah membuat menurunnya kualitas sumber daya manusia, yang notabennya sebagai agent of change.
Bangka Selatan adalah salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, yang merupakan daerah dengan tingkat gejala stunting cukup tinggi.
Namun bukan berarti gejala stunting ini tidak bisa di selesaikan ataupun di turunkan. Apalagi di tahun 2022 sudah ada penurunan gejala stunting di daerah Bangka Selatan, dengan adanya solusi dan juga strategi yang dilakukan oleh pemerintah tidak menutup kemungkinan bahwa penurunan terhadap gejala stunting bisa teratasi.
Ada beberapa solusi ataupun uapaya yang bisa dilakukan untuk mencegah gejala stunting yang terjadi di Bangka Selatan. Diantaranya yaitu, Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP), hal ini perlu diketahui oleh remaja yang mana untuk usia ideal menikah adalah 21 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki.
Kemudian yang kedua adalah Ibu hamil harus mengonsumsi tablet tambah darah (TTD), mengonsumsi makanan bergizi seimbang sesuai kebutuhan Ibu hamil, dan rutin pemeriksaan kandungan.
Yang ketiga, untuk Ibu menyusui harus menerapkan pola asuh anak yang sesuai kaidah gizi seimbang. Yang keempat, balita harus rutin posyandu dan imunisasi lengkap.
Selanjutnya yang terakhir, pemerintah harus bisa memberikan sosialisasi terhadap buruknya akibat pernikahan dini kepada masyarakat khusunya remaja.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkaan bahwasanya Bangka Selatan merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang mengalami gejala stunting cukup tinggi, yang mana diakibatkan oleh beberapa faktor yaitu pernikahan dini yang tinggi, pola asuh yang masih kurang tepat, asupan gizi anak yang belum mencukupi kebutuhan gizi atau tidak memenuhi gizi seimbang, serta gejala anemia yang terjadi pada remaja ataupun ibu hamil.
Tidak ada komentar