Proyek Berdiri, Kemanusiaan Diuji: Bocah Gizi Buruk Tinggal Berdampingan dengan Koperasi Merah Putih

waktu baca 3 menit
Sabtu, 1 Agu 2026 22:42 9 iwan okeyboz

SARANG MANDI, OKEYBOZ.COM – Pemandangan yang tersaji di RT 14, Desa Sarang Mandi, Kecamatan Sungaiselan, Kabupaten Bangka Tengah, menghadirkan ironi yang sulit diabaikan.

 

Di satu sisi berdiri bangunan Koperasi Merah Putih yang dibangun melalui program pemerintah. Bangunan permanen itu tampak megah dan menjadi simbol pembangunan ekonomi desa.

 

Namun hanya beberapa langkah dari bangunan tersebut, seorang bocah berusia lima tahun, M. Fildan, masih harus menjalani hari-harinya dengan kondisi gizi buruk di rumah sederhana yang jauh dari kata layak.

 

Kontras dua potret itu memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat. Ketika anggaran negara mampu menghadirkan bangunan baru, mengapa masih ada anak yang hidup berdampingan dengan proyek tersebut tetapi belum memperoleh perhatian yang memadai terhadap kebutuhan paling mendasar, yakni kesehatan dan gizi?

 

Pembangunan tentu menjadi kebutuhan yang tidak dapat dipungkiri. Kehadiran koperasi diharapkan mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat desa. Namun, pembangunan sejatinya tidak hanya diukur dari berdirinya sebuah gedung, melainkan juga dari sejauh mana manfaatnya mampu menyentuh kehidupan warga, terutama mereka yang berada dalam kondisi paling rentan.

 

Apa arti sebuah bangunan baru apabila di sampingnya masih ada seorang anak yang berjuang mempertahankan kesehatannya?

 

Pertanyaan tersebut bukan dimaksudkan untuk menyalahkan keberadaan Koperasi Merah Putih, melainkan menjadi refleksi mengenai arah dan prioritas pembangunan. Sebab pembangunan yang berhasil bukan hanya menghasilkan infrastruktur, tetapi juga menghadirkan perlindungan dan kesejahteraan bagi masyarakat.

 

Ironi itu semakin terasa ketika kepedulian justru datang dari berbagai elemen masyarakat. Keluarga besar RADAK Babel kembali hadir memberikan bantuan sembako dan dukungan kepada keluarga M. Fildan. Bantuan tersebut memang tidak serta-merta mengakhiri seluruh persoalan, tetapi menjadi bukti bahwa empati masih hidup di tengah masyarakat.

 

Kisah M. Fildan menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak boleh kehilangan sisi kemanusiaannya. Gedung dapat selesai dibangun dalam hitungan bulan, tetapi masa depan seorang anak bisa hilang apabila terlambat mendapatkan perhatian.

 

Sudah saatnya keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur melalui nilai proyek, besarnya anggaran yang terserap, ataupun jumlah bangunan yang berdiri. Lebih dari itu, keberhasilan pembangunan harus tercermin dari semakin sedikitnya masyarakat yang hidup dalam keterbatasan, terutama anak-anak yang membutuhkan perhatian khusus.

 

Tanggapan Masyarakat

 

Keberadaan bangunan koperasi yang berdiri berdekatan dengan rumah M. Fildan turut menjadi perbincangan di kalangan warga sekitar.

 

Sejumlah warga yang ditemui RADAKBABEL.COM mengaku prihatin melihat kondisi tersebut. Mereka berharap pembangunan fisik dapat berjalan beriringan dengan perhatian terhadap persoalan sosial yang terjadi di lingkungan sekitar.

 

“Kami tentu senang desa dibangun dan ada koperasi. Tapi kami juga berharap anak-anak yang kondisinya seperti Fildan mendapat perhatian serius. Jangan sampai pembangunan terlihat megah, sementara tetangga di sebelahnya masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar,” ujar seorang warga yang meminta namanya tidak dipublikasikan.

 

Warga lainnya menilai bahwa keberadaan fasilitas umum semestinya juga diikuti dengan penguatan program kesehatan, pendampingan keluarga, serta penanganan gizi bagi anak-anak yang membutuhkan.

 

“Kalau pembangunan ekonomi berjalan, seharusnya pembangunan manusianya juga ikut diperhatikan. Jangan hanya bangun gedung, tetapi pastikan masyarakat di sekitarnya juga merasakan manfaatnya,” katanya.

 

Menurut beberapa warga, kondisi M. Fildan bukan sekadar persoalan satu keluarga, tetapi menjadi pengingat bahwa masih ada pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan bersama oleh pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat.

 

Bagi mereka, pembangunan akan memiliki makna yang sesungguhnya apabila tidak hanya menghadirkan bangunan baru, tetapi juga mampu menghadirkan harapan baru bagi anak-anak yang hidup dalam keterbatasan.

 

Hingga berita ini diterbitkan, RADAKBABEL.COM masih berupaya meminta tanggapan dari pihak pemerintah desa maupun instansi terkait mengenai upaya penanganan kondisi M. Fildan serta langkah-langkah yang telah atau akan dilakukan dalam mendukung kesejahteraan keluarga tersebut. (OB,RADAK)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    error: Content is protected !!