
BANGKA BARAT, OKEYBOZ.COM – Bupati Bangka Barat, Markus, SH, menghadiri perayaan Festival Sembahyang Bulan 2026 di Desa Puput, Kecamatan Parittiga. Kegiatan tersebut turut dihadiri sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD) serta tokoh adat setempat.
Dalam sambutannya, Markus menyampaikan kebanggaannya terhadap kerukunan antarumat beragama yang terjalin di Desa Puput. Menurutnya, kehidupan masyarakat di desa tersebut menjadi contoh nyata toleransi dan kebersamaan di Kabupaten Bangka Barat.
“Kalau orang bertanya mana contoh kerukunan di Bangka Barat, saya akan jawab Desa Puput, Parittiga. Di sini masjid dan kelenteng jaraknya sangat dekat. Kalau ada kegiatan, ibu-ibu Melayu ikut memasak, pemuda Tionghoa membantu mengangkat kursi saat sembahyang bulan, dan karang taruna menjaga parkir saat Idulfitri,” ujar Markus.
Ia menegaskan, kerukunan sejati tidak hanya ditunjukkan melalui perkataan, tetapi juga melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, masyarakat Desa Puput telah menunjukkan bagaimana perbedaan suku dan agama dapat menjadi kekuatan untuk membangun kehidupan yang harmonis.
“Yang ikut menjaga malam juga warga Tionghoa. Itulah warga Bangka Barat yang sesungguhnya, bukan ribut di Facebook, tetapi rukun di kampung,” tegasnya.
Markus juga menyampaikan bahwa Festival Sembahyang Bulan bukan hanya milik masyarakat Tionghoa, melainkan telah menjadi bagian dari kekayaan budaya Kabupaten Bangka Barat yang perlu dijaga bersama.
Ia menilai nilai-nilai dalam tradisi Sembahyang Bulan sejalan dengan visi pembangunan Bangka Barat yang sejahtera, rukun, dan maju.
Menurutnya, nilai kebersamaan tercermin dari kue bulan yang berbentuk bulat dan dibagikan kepada seluruh anggota keluarga sebagai simbol berbagi rezeki.
“Pembangunan di Puput juga harus begitu. Jalan yang kita bangun dan bantuan UMKM yang kita berikan harus dirasakan semua warga tanpa melihat suku dan agamanya,” katanya.
Selain itu, Markus mengapresiasi potensi UMKM lokal, khususnya produk kue bulan dan kerupuk yang telah dikenal hingga Mentok.
Ia menyebutkan, Pemerintah Kabupaten Bangka Barat melalui Dinas Koperasi akan terus mendukung pengembangan UMKM di Desa Puput, termasuk membantu pengurusan legalitas halal dan peningkatan kemasan produk agar mampu menembus pasar toko modern.
Sementara itu, terkait simbol lampion yang menghiasi perayaan, Markus menyebutnya sebagai lambang cahaya dan harapan bagi masa depan desa.
Ia berharap Desa Puput dapat menjadi desa percontohan kerukunan umat beragama di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Markus mengungkapkan telah meminta Kesbangpol dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) untuk mencatat Desa Puput sebagai desa sadar kerukunan. Pemerintah daerah juga berencana memberikan penghargaan atas upaya masyarakat dalam menjaga keharmonisan.
Dalam kesempatan tersebut, Markus turut menitipkan tiga pesan kepada masyarakat.
Pertama, ia mengajak warga Desa Puput untuk terus merawat tradisi Sembahyang Bulan dan mewariskannya kepada generasi berikutnya, termasuk melalui kegiatan bermain lampion dan berbagi kue bulan.
Kedua, ia mengajak masyarakat Melayu dan suku lainnya untuk terus menjaga toleransi, saling menghormati, serta turut menjaga keamanan ketika tetangga menjalankan perayaan keagamaan.
Ketiga, Markus berpesan kepada generasi muda agar tidak mudah terprovokasi isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), khususnya melalui media sosial.
Ia mengimbau masyarakat untuk memastikan kebenaran informasi kepada pihak berwenang sebelum membagikannya, guna menghindari penyebaran kabar yang berpotensi memecah belah persaudaraan.
Menutup sambutannya, Markus menyampaikan ucapan selamat merayakan Festival Sembahyang Bulan 2026 kepada seluruh masyarakat Desa Puput.
Ia berharap cahaya bulan purnama membawa keberkahan, kesehatan, kelimpahan rezeki, serta keharmonisan bagi seluruh keluarga.
“Mari kita jaga slogan kita, Bangka Barat Sejiran Setason. Puput rukun semua,” tutupnya.
Tidak ada komentar