Pakai Alat Berat Hingga Beroperasi Malam Hari, Warga Keranggan Mentok Keluhkan Suara Bising Tambang Milik Man

waktu baca 3 menit
Rabu, 3 Jan 2024 18:37 27 Admin

Penulis: Jobber

OKEYBOZ.COM, BANGKABARAT, — Aktivitas tambang timah tampaknya memang sulit untuk ditertibkan.
Bahkan, saking beraninya, para pemilik tambang timah ini terkadang tidak lagi perduli terhadap lingkungan sekitar.

Selain legalitas yang dipertanyakan, terkadang aktivitas mereka ini juga dikeluhkan masyarakat yang berada di sekitar lokasi tambang.

Seperti yang terjadi di Gang Kebanjiran Kampung Keranggan Tengah, Kelurahan Keranggan, Kecamatan Mentok, Kabupaten Bangka Barat (Babar) ini.
Warga sekitar mengaku resah terhadap aktivitas pertambangan biji timah yang ada di wilayah mereka tersebut.

Tambang inkonvensional mini jenis produksi tersebut informasi dimilili oleh Bang Man. Namun yang menjalankan aktivitas tambang sehari-hari adalah anaknya, yakni Ojie.

Dikatakan Ip, salah satu warga Kampung Keranggan, bahwa aktivitas tambang yang diduga beroperasi secara ilegal tersebut kini menjadi perbincangan masyarakat sekitar.

“Sudah hampir dua minggu aktivitas TI di sana. Kemarin sempat ada alat berat satu unit, tapi ekskavatornya yang jenis mini berwarna hijau dioperasikan untuk menggali tanah di lokasi itu. Tetapi sekarang, sepertinya sudah ke luar dari lokasi,” ujar Ip, ketika dibincangi sejumlah awak media pada Rabu (3/1/2024).

Namun demikian, pria berusia 32 tahun tersebut tidak mengetahui secara detail kepemilikan alat berat mini tadi.

“Yang jelas, usaha eksploitasi biji timah tersebut dijalankan oleh masyarakat sekitar yang dikenal warga Man. Tapi yang jalanin anaknya. Beliau ini juga berdomisili di Kelurahan Keranggan,” tukasnya.

Menurut Ip, warga sekitar sudah tahu aktivitas tersebut, namun masyarakat masih berkoordinasi untuk mencari jalan tengah terkait aktivitas tambang di sana.
Ada rencana untuk dilakukan demo ke lokasi, namun masyarakat masih menahan diri terlebih dulu.

“Masyarakat masih melihat dulu dalam sepekan ke depan, kalau kira-kira masih menimbulkan keresahan akibat suara bising yang ditimbulkan, warga rencananya mau lapor ke aparat. Apalagi aktivitasnya sampai jam 9 malam setiap harinya,” beber Ip.

Dikataka Ipe, mengenai hasilnya banyak atau tidak, Ia tidak tahu.
“Karena mereka cuci (memurnikan timah) pada malam hari. Mereka kerja sistem produksi, mesin yang digunakan pun jenis mini 75 PK. Tapi tetap bising, orang azan magrib pun gemuruh suaranya. Mereka bekerja hingga jam 9 malam,” tambah Ip.

Hal senada juga dikeluhkan Ben, warga Keranggan Tengah lainnya.
Diakui Ben, aktivitas tambang yang sempat menggunakan alat berat tersebut berada di sisi kiri dan kanan jalan lingkar. Bahkan bekas galian eksavator hampir menyentuh rumah penduduk.

“Ada rumah masyarakat sekitar yang di sana, tinggal sekitar dua meter lagi menyentuh pondasi bangunan. Dan secara keseluruhan berada di dekat beberapa perumahan warga. Lokasinya dekat dengan jalan lingkar yang bisa dikatakan baru dibangun,” ujar Ben.

“Kalau dari jalan nasional itu jaraknya terbilang dekat, mungkin hanya sekitar 150 meter lebih. Saya khawatirnya aktivitas ini bisa mengancam fasilitas jalan lingkar tadi, selain dari pada bisa mengganggu masyarakat karena suara bising yang ditimbulkan,” imbuhnya.

Pengelolah tambang Ojie, yang dihubungi Tim Journalis Babel Bergerak (Jobber) pada Rabu (3/1/2024) membantah jika tambang milik ayahnya tersebut beroperasi hingga malam.

“Memang ada kami beroperasi hingga malam. Tetapi hanya dua kali, dan itupun tidak berturut-turut. Itu kami lakukan, karena saat itu mesin TI rusak, sementara tanah harus segera kami cuci. Dan karena mesinnya baru bisa operasi lagi saat sore, maka kami teruskan hingga selesai malam hari,” ujar Ojie.

Dikatakan Ojie, TI milik keluraganya itu baru beroperasi sekitar tiga minggu ini. Soal hasil, Ojie mengaku hanya berkisar belasan kilo perharinya.

“Sekitar belasan kilo hasilnya. Sedangkan modal perhari bisa mencapai Rp 600 ribuan. Tambang ini, sebenarnya juga untuk meratakan tanah yang akan kami jadikan kavlingan. Jadi kami tambang dulu sekalian untuk meratakan tanah tersebur,” tukas Ojie.

Ia tidak menampik, jika tambang yang dikelolah tersebut hingga kini tidak memiliki izin.
“Kalo soal izin, kita tahulah, mana ada tambang yang ada izin sekarang ini,” ujarnya. (JB/okeyboz)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    error: Content is protected !!