
Oleh: Sukma Wijaya
Perawat Budaya dan Praktisi Kehumasan (Unmuh Babel)
Ada banyak cara mencintai budaya. Ada yang menjaganya di atas panggung, menuliskannya dalam buku, atau mewariskannya dari lisan ke lisan. Namun, ada cara lain yang tak kalah penting: membawa budaya masuk ke kehidupan sehari-hari, membuatnya dekat dengan masyarakat, bahkan menjadi bagian dari gerak tubuh dan kegembiraan bersama.
Dari pemikiran itulah Senam Serumpun Sebalai, Senam Kreasi Budaya Melayu Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, hadir.
Gagasannya datang dari Gubernur Kepulauan Bangka Belitung. Pertanyaannya sederhana, tetapi maknanya besar: bisakah masyarakat menjaga kebugaran sekaligus merawat identitas budayanya? Bisakah gerakan yang menyehatkan tubuh menjadi jalan bagi generasi muda untuk mengenal kekayaan tradisinya sendiri?
Sebab, budaya jangan hanya menjadi sesuatu yang kita tonton, tepuki, lalu tinggalkan setelah acara selesai. Budaya harus ikut bergerak bersama kita.
Gagasan tersebut kemudian digerakkan bersama Budi Utama dan Ibnu Suzano, Kepala Biro Pemerintahan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Budi Utama, yang tahun ini mengemban amanah sebagai Ketua Panitia Hari Jadi ke-26 Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, berhasil menggerakkan potensi insan daerah, pekerja kreatif, dan seniman agar gagasan tersebut tidak berhenti sebagai wacana.
Dari ruang kolaborasi itulah saya kembali mendapat kesempatan mengerjakan sesuatu yang sejak lama menjadi perhatian saya: menghadirkan kebudayaan ke tengah masyarakat melalui gerak yang akrab, menyenangkan, dan dapat dilakukan bersama.
Bagi saya, ini bukan perjalanan pertama.
Pada 2019, saya dipercaya menjadi koreografer Senam Bedincak. Alhamdulillah, karya tersebut tumbuh menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Bangka Belitung dan masih diingat hingga hari ini.
Namun, keberhasilan karya terdahulu bukan alasan untuk sekadar mengulang formula yang sama. Setiap karya memiliki tantangan dan tanggung jawabnya sendiri. Tantangannya adalah menghadirkan sesuatu yang baru tanpa kehilangan akar.
Serumpun Sebalai menjadi karya kedua saya dalam perjalanan ini. Dua karya, dua pengalaman, tetapi satu kegelisahan yang sama: bagaimana budaya tidak berhenti sebagai tontonan, melainkan benar-benar hidup dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Bukan Sekadar Senam Kebugaran
Senam kreasi budaya dan Senam Kesegaran Jasmani (SKJ) sama-sama bermanfaat bagi kebugaran, tetapi memiliki titik berangkat berbeda. SKJ berorientasi pada kebugaran jasmani melalui rangkaian gerak terstruktur, sedangkan senam kreasi budaya menggali gerak dari kekayaan tari tradisi yang diolah menjadi senam tanpa menghilangkan karakter budayanya.
Koreografi Serumpun Sebalai berpijak pada kekayaan gerak tari tradisi Bangka Belitung, seperti Kecupus, Dincak Dambus, Campak, Sepen, Cakter, Zapin, dan Gajah Menunggang. Tantangannya adalah menjaga rasa Melayu sekaligus membuat gerakannya dinamis, aman, dan mudah diikuti berbagai kalangan. Jika kebugaran menggerakkan tubuh, senam kreasi budaya juga menggerakkan ingatan dan meneguhkan jati diri.
Bagi saya, kreativitas bukan berarti menghapus jejak lama agar terlihat baru. Justru tradisi perlu diberi ruang untuk tumbuh, menyesuaikan diri, dan menemukan bentuk yang lebih dekat dengan kehidupan hari ini tanpa kehilangan identitasnya.
Merawat budaya bukan berarti membekukannya dalam masa lalu. Tradisi harus tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Sebuah Karya Tidak Lahir Sendirian
Senam Serumpun Sebalai bukan pekerjaan satu orang. Karya ini tumbuh melalui pertemuan keahlian, gagasan, dan kepekaan banyak pihak.
Dalam proses koreografi, saya berkolaborasi dengan Zuryantina, instruktur senam berpengalaman hingga berprestasi tingkat nasional. Kepekaannya terhadap anatomi gerak, ritme, dan kebutuhan kebugaran menjadi bagian penting agar gerakan yang berakar pada tari tradisi tetap nyaman dan aman dilakukan.
Di bidang musik, ada Zulfikri Hilmi, musisi dan arranger asal Bangka yang bermukim di Sungailiat. Ia mengolah aransemen agar karakter Melayu tetap terasa, sementara tempo dan dinamikanya mampu menopang gerakan senam yang energik.
Kemudian hadir Nunung Rohmawati, vokalis yang dikenal melalui lagu Muharram di Kenango dan pernah meraih juara nasional Festival Lagu Melayu di Medan. Suaranya memberi warna sekaligus membangun kedekatan emosional antara musik, gerak, dan pendengarnya.
Masing-masing membawa keahlian berbeda, tetapi bertemu dalam satu tujuan: menghadirkan senam yang berakar pada tradisi dan mampu mengikuti denyut kehidupan masyarakat.
Di sinilah indahnya kolaborasi. Karya yang baik tidak selalu lahir dari satu orang yang ingin tampil paling menonjol. Sering kali, karya justru menjadi lebih kuat ketika setiap orang bersedia menyumbangkan keahliannya demi sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Nama para pencipta penting sebagai bentuk penghargaan. Namun, keberhasilan sesungguhnya adalah ketika karya itu mampu tumbuh di luar ruang penciptaannya, diterima masyarakat, lalu menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Sebab, Serumpun Sebalai tidak dibuat untuk berhenti di ruang latihan. Ia harus menemukan rumahnya di tengah masyarakat.
Dari Ruang Pelatihan Menuju Tujuh Kabupaten/Kota
Sebuah karya tidak cukup hanya selesai diciptakan. Ia harus diperkenalkan, dipelajari, dan dihidupkan bersama.
Harapan saya, Senam Serumpun Sebalai tumbuh di halaman sekolah, lingkungan perkantoran, komunitas olahraga, lapangan kampung, dan berbagai ruang kebersamaan lainnya. Ketika pelajar, guru, pegawai, dan masyarakat bergerak mengikuti gerak yang berakar dari tradisi, mereka bukan hanya menjaga kebugaran, tetapi juga berkenalan dengan kekayaan budaya daerahnya.
Ikhtiar ini direncanakan mencapai momentum besar pada peringatan Hari Jadi ke-26 Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Sebanyak 10.000 orang direncanakan bersenam bersama, bergerak dengan penuh semangat dan kegembiraan. Sosialisasi dan pelaksanaan senam massal ini juga direncanakan menjangkau tujuh kabupaten/kota se-Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Jika rencana tersebut terwujud, ini bukan sekadar peristiwa olahraga massal. Ini adalah kesempatan untuk menunjukkan bahwa budaya Melayu dapat hadir dalam ruang kebersamaan yang luas, melibatkan masyarakat lintas usia dan latar belakang.
Bayangkan ribuan orang bergerak bersama. Ada pelajar, guru, pegawai, komunitas senam, dan masyarakat umum. Gerakannya mungkin belum semuanya kompak, tetapi semangatnya bertemu dalam satu irama: menjaga kesehatan sekaligus merawat identitas daerah.
Tentu, jumlah peserta yang besar akan menjadi catatan tersendiri. Namun, ukuran keberhasilan yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah perayaan usai.
Apakah senam ini tetap dilakukan di sekolah? Apakah komunitas terus menggerakkannya? Apakah masyarakat semakin mengenal gerak tradisi yang menjadi sumbernya?
Sebab, budaya tidak boleh hanya ramai ketika festival berlangsung, meriah saat perlombaan digelar, lalu sunyi kembali setelah panggung dibongkar.
Kita juga tidak ingin generasi muda hanya mengenal budaya daerah melalui spanduk, baliho, atau paragraf sambutan dalam acara resmi.
Budaya harus hadir sebagai pengalaman hidup: dikenal karena dipelajari, dicintai karena dirasakan, dan diwariskan karena dianggap berharga.
Senam kreasi budaya tentu tidak menggantikan tari tradisi. Keduanya memiliki ruang dan fungsi masing-masing. Serumpun Sebalai justru diharapkan menjadi pintu masuk yang menyenangkan agar masyarakat semakin mengenal, mencintai, dan menghargai kekayaan gerak daerahnya sendiri.
Salah Gerak Tidak Apa-Apa, Asal Jangan Kehilangan Arah
Dalam sosialisasi senam, kita menemukan kemampuan yang beragam. Ada yang cepat menghafal gerakan. Ada yang perlu mengulang beberapa kali. Ada pula yang tangannya sudah bergerak ke kanan, tetapi kakinya justru punya pendapat sendiri.
Tidak apa-apa. Namanya juga belajar.
Selama masih mau mencoba, bersedia mengulang, dan tetap bergembira, selalu ada ruang untuk menjadi lebih baik.
Kebersamaan tidak menuntut semua orang memiliki kemampuan yang sama. Yang diperlukan adalah kemauan untuk bergerak menuju tujuan yang sama.
Karena itu, keberhasilan Serumpun Sebalai tidak semestinya hanya diukur dari seberapa kompak barisan atau seberapa seragam gerakan pesertanya. Ukuran yang lebih penting adalah apakah masyarakat menjadi semakin sehat, budaya daerah semakin dikenal, dan kebanggaan terhadap identitas Melayu Bangka Belitung semakin tumbuh.
Kalau hanya mengejar barisan yang rapi, kita mungkin berhasil menciptakan keseragaman. Namun, belum tentu kita berhasil menumbuhkan rasa memiliki terhadap budaya.
Maka, mari membawa senam ini keluar dari ruang pelatihan dan masuk ke ruang kehidupan masyarakat. Biarkan ia tumbuh melalui partisipasi, bukan hanya promosi; melalui kebiasaan, bukan sekadar perayaan.
Merawat budaya juga tidak harus selalu dengan wajah serius dan kening berkerut. Ada kalanya, budaya justru lebih mudah hidup ketika orang-orang tersenyum, tertawa, dan menikmati setiap gerakannya.
Hidup ini sudah cukup membuat kita pusing. Jangan sampai urusan melestarikan budaya ikut membuat kita lupa bahagia.
Kalau gerakan masih salah, kita perbaiki. Kalau langkah belum kompak, kita ulangi. Namun, kalau semangat menjaga budaya mulai kendur, nah, itu yang harus segera kita bangkitkan.
Menggerakkan Budaya, Meneguhkan Jati Diri
Pada akhirnya, Senam Serumpun Sebalai bukan sekadar soal menciptakan rangkaian gerakan baru. Ia adalah bagian dari ikhtiar mendekatkan kebudayaan kepada masyarakat dan meneguhkan rasa memiliki terhadap identitas daerah.
Tentu, sebuah senam tidak bisa memikul seluruh tanggung jawab pelestarian budaya. Kita tetap membutuhkan pendidikan budaya, dokumentasi tradisi, ruang bagi seniman, dukungan kebijakan, dan keterlibatan masyarakat yang berkelanjutan.
Namun, setiap ikhtiar memiliki pintu masuknya sendiri. Serumpun Sebalai mencoba membukanya melalui sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: gerak, musik, kebugaran, dan kegembiraan bersama.
Jangan biarkan budaya hanya menjadi cerita tentang masa lalu. Beri ia ruang untuk bergerak, tumbuh, dan hidup bersama generasi hari ini.
Sebab, budaya yang hidup bukan hanya budaya yang kita banggakan dalam kata-kata, melainkan budaya yang kita kenali, rawat, dan praktikkan dalam kehidupan.
Mari bergerak bersama. Sehatkan badan, hidupkan budaya, eratkan persaudaraan.(OB)
Tidak ada komentar