Nama Pian Disebut Bos Besar Dalam Pengendalian BBM Ilegal di Belitung, yang didapat dari Kencingan” Tanker, SPBU, dan SPBN

waktu baca 4 menit
Senin, 19 Jan 2026 08:05 78 iwan okeyboz

EDITOR : RADAK BABEL

BELITUNG, OKEYBOZ.COM — Dibalik kelangkaan solar subsidi yang kerap dikeluhkan nelayan dan pelaku usaha kecil di Pulau Belitung, tersimpan praktik gelap yang telah lama berdenyut di jalur laut dan darat.

Solar ilegal, yang diduga berasal dari hasil “kencingan” kapal tanker serta penyelewengan distribusi di SPBU dan SPBN, mengalir deras ke gudang-gudang penampungan hingga ke tangan para penambang ilegal.

Hasil penelusuran tim investigasi Radakbabel.com menguatkan dugaan bahwa peredaran solar subsidi di Belitung bukan sekadar ulah pemain kecil, melainkan jaringan terorganisir yang bekerja sistematis, rapi, dan berlangsung bertahun-tahun.

Modus yang digunakan berlapis. Di laut, sejumlah kapal tanker diduga melakukan praktik “kencingan”, istilah yang dikenal luas di kalangan pelaut untuk menyebut pengeluaran solar secara ilegal dari tangki kapal ke kapal kecil atau drum-drum penadah di tengah laut.

Solar ini kemudian dibawa ke darat melalui pelabuhan-pelabuhan kecil, muara, hingga dermaga tidak resmi.

Di darat, jaringan ini diperkuat dengan penyelewengan solar subsidi dari SPBU dan SPBN. Solar yang seharusnya diperuntukkan bagi nelayan, petani, dan masyarakat kecil, dibeli menggunakan armada kendaraan yang telah dimodifikasi tangkinya, memakai barcode ganda, hingga memanfaatkan identitas palsu. Dari situ, BBM subsidi digiring ke titik penampungan sebelum dipasarkan kembali dengan harga industri.

Gudang, Mobil Tangki, dan Nama “Pian”

Tim Radak mengungkap, sebuah kendaraan pengangkut solar subsidi sempat terpantau mondar-mandir di kawasan Tanjungpandan dengan pola operasi yang mencurigakan. Penelusuran berlanjut ke sebuah gudang yang diduga menjadi lokasi transit utama solar ilegal.

Dalam jaringan ini, muncul nama “Pian”, yang oleh sumber lapangan disebut sebagai pemain besar solar jalur laut di kawasan Air Merbau, Kecamatan Tanjungpandan.

Ia diduga mengendalikan distribusi solar dalam jumlah besar, baik yang bersumber dari SPBU/SPBN maupun hasil “kencingan” tanker.

Solar tersebut kemudian disalurkan ke berbagai pihak, terutama penambang timah ilegal yang beroperasi di darat dan perairan Belitung.

Kapal Solar Bebas Bersandar di Dermaga Polairud

Temuan paling mencolok adalah keberadaan kapal pengangkut solar milik Pian yang disebut-sebut kerap bersandar di Dermaga Polairud Belitung.

Dermaga ini seharusnya menjadi kawasan dengan pengawasan ketat aparat penegak hukum, mengingat posisinya berada di bawah kendali kepolisian perairan.

Namun ironisnya, kapal tersebut diduga keluar-masuk tanpa hambatan berarti. Tidak terlihat pemeriksaan intensif, tidak ada penertiban terbuka, dan tidak ada penindakan hukum yang menyusul.

Situasi ini memantik kecurigaan publik. Banyak pihak menduga adanya pembiaran, bahkan kemungkinan perlindungan dari oknum aparat. Dugaan ini semakin menguat karena distribusi solar ilegal lewat jalur laut mustahil berjalan mulus tanpa “lampu hijau” di titik-titik strategis.

Solar telah menjadi urat nadi tambang ilegal. Mesin ponton, alat berat, hingga kapal keruk menggantungkan hidupnya pada pasokan BBM murah.

Dari sinilah solar subsidi yang diselewengkan berubah fungsi: bukan lagi penopang ekonomi rakyat kecil, melainkan bahan bakar perusakan lingkungan.

Hutan rusak, perairan keruh, pesisir tercemar, sementara negara menanggung kerugian ganda subsidi yang salah sasaran dan kerusakan ekologis yang mahal untuk dipulihkan.

Seorang sumber lapangan menyebut, jaringan ini memiliki struktur yang nyaris sempurna: ada pengumpul dari tanker, penadah SPBU/SPBN, pengelola gudang, transporter darat dan laut, hingga “klien tetap” dari kalangan penambang ilegal. Setiap mata rantai saling mengunci dan sulit ditembus.

Desakan Bongkar Jaringan, Usut Oknum Aparat

Masyarakat kini menuntut langkah tegas. BPH Migas, Pertamina, Polri, hingga pengawas internal institusi penegak hukum didesak turun tangan secara serius. Bukan sekadar razia simbolik, tetapi penyelidikan menyeluruh dari hulu hingga hilir.

“Kalau hanya sopir dan penjaga gudang yang ditangkap, jaringan ini tidak akan mati. Akar masalahnya ada di pemasok besar dan pelindungnya,” ujar seorang tokoh masyarakat Belitung.

Hingga laporan ini diturunkan, pihak Polairud Belitung belum memberikan keterangan resmi. Tim investigasi Radak menyatakan akan terus menelusuri alur distribusi solar ilegal ini, termasuk menelusuri dugaan keterlibatan oknum aparat.

Kasus solar ilegal di Belitung bukan lagi cerita tentang pelanggaran kecil. Ia telah menjelma menjadi industri gelap yang menggerogoti keuangan negara, merampas hak rakyat kecil, dan mempercepat kehancuran lingkungan. Semua berlangsung di tengah pengawasan yang seharusnya ketat, namun tampak lumpuh.

Pian Kirim Orang Hubungi Tim Radak Babel

Sementara itu, saat dikonfirmasi kepada Pian, pada Minggu (18/1/2026) pagi, pihak yang disebut-sebut sebagai pemain utama solar kencing di Belitung, tidak memberikan tanggapan Tim Radak Babel. Upaya konfirmasi tidak direspon, justru tak lama berselang satu orang yang mengaku wartawan di Belitung, menghubungi salah satu Tim Radak Babel.

“Dimana bang, mau ngajak ngopi,” kata oknum wartawan tersebut.

Beberapa waktu kemudian, Cacan yang mengaku sebagai orang yang mewakili Pian mencoba menghubungi Tim Radak Babel.

“Saya Bagian Bidang Operasional Keuangan pak. Bang pian masih di Papua. Iya Pak. Bng pian gk bakal fokus kesitu… Makanya saya disuru maju,” kata Cacan, Minggu siang melalui pesan WhatsApp.

Cacan juga mengatakan, jika pihaknya membantah tuduhan solar kencing tersebut.

“Tuduhan itu ngak benar, kapal tengker ngak ada masuk Belitung apa lagi di jual ke SPBU dan SPDN,” kata Cacan.(OB,Rdak)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    error: Content is protected !!