
OKEYBOZ.COM, BELITUNG – Di tengah duka yang menyelimuti keluarga Wakil Gubernur Kepulauan BangkaBelitung (Babel) Ibu Hellyana ruang publik masyarakat Babel justru dipenuhi riuh tafsir. Banyak masyarakat yang mempertanyakan mengapa tidak terlihat menyampaikan ucapan belasungkawa secara resmi ataupun mengirimkan karangan bunga atas wafatnya Herry Setyobudi suami Hellyana.
Namun begitu dibalik sorotan tersebut, terdapat sisi yang tidak seluruhnya diketahui publik. Dalam tata pemerintahan, hal-hal seperti ucapan resmi, kehadiran institusi, hingga pengiriman karangan bunga sering kali tidak hanya berbicara soal empati, tetapi juga menyangkut aturan, etika jabatan, dan administrasi negara.
Meski demikian, pihak terdekat menggambarkan bahwa secara pribadi dan nurani tetap menunjukkan rasa kehilangan dan belasungkawa yang mendalam. Terlebih dalam nilai kemanusiaan dan ajaran Islam, duka seseorang adalah duka bersama.
“Bukan berarti tidak berempati. Kadang jabatan membuat seseorang harus berhati-hati antara rasa pribadi dan posisi resmi,” ujar seorang sumber internal yang enggan disebutkan namanya.
Di tengah dinamika politik dan persepsi publik, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa tidak semua sikap yang tampak dipermukaan mencerminkan isi hati seseorang. Ada batas antara empati personal dan langkah formal pemerintahan yang sering kali tidak dipahami masyarakat luas.
Pada akhirnya, duka tetaplah duka. Dan diatas segala polemik, doa terbaik tetap mengalir untuk almarhum Herry Setyobudi, keluarga yang ditinggalkan, serta harapan agar suasana tetap teduh tanpa saling menghakimi. (OB)
Tidak ada komentar