Kemarau Belum Berakhir, Cadangan Air Kolong Bacang Pangkalpinang Tinggal 10 Hari

waktu baca 5 menit
Selasa, 15 Sep 2026 09:28 30 dika okeyboz

PANGKALPINANG, OKEYBOZ.COM — Dua hari tanpa air membuat aktivitas warga di Kecamatan Bukit Intan, Pangkalpinang, ikut tersendat. Keran yang biasanya mengalir dua kali sehari, pagi dan malam, mendadak tak lagi mengeluarkan air sejak Sabtu (12/9/2026) siang.

Kondisi tersebut sangat dirasakan warga Perumahan Bangka Pos, RT 08/RW 02, Jalan Pulau Pelepasa, Kelurahan Air Itam, Kecamatan Bukit Intan.

Bagi warga, air PDAM bukan sekadar fasilitas. Air dibutuhkan untuk memasak, mencuci, mandi, membersihkan rumah hingga berbagai aktivitas keluarga sehari-hari. Karena itu, ketika air berhenti mengalir, aktivitas rumah tangga ikut terganggu.

Setelah hampir dua hari menunggu, secercah harapan muncul pada Senin (14/9/2026) siang. Air kembali mengalir. Namun, debitnya masih sangat kecil.

Air yang keluar dari keran bahkan belum mampu mendorong aliran menuju tedmond yang berada sekitar 2-3 meter dari permukaan tanah. Warga terpaksa menampung air menggunakan ember demi ember.

“Air memang sudah hidup, tetapi tidak deras. Untuk masuk ke tedmond belum bisa, jadi sementara ditampung pakai ember,” demikian gambaran kondisi warga saat air kembali mengalir.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan air bersih di tengah kemarau bukan lagi sekadar soal kenyamanan, tetapi mulai menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.

Kolong Bacang Mulai Menipis

Direktur Perumda Tirta Pinang Pangkalpinang, Agus Salim, menyampaikan permohonan maaf kepada para pelanggan atas terganggunya pelayanan air bersih di wilayah Bukit Intan dan sekitarnya.

Menurut Agus, gangguan tersebut berkaitan dengan kondisi sumber air baku di Kolong Bacang yang mengalami penyusutan cukup signifikan akibat kemarau.

Untuk menjaga agar air tetap dapat dialirkan, pihak Perumda melakukan pekerjaan pemindahan atau pergeseran pompa intake ke bagian kolong yang masih memiliki air.

“Pergeseran pompa dilakukan karena Kolong Bacang sebagai sumber air baku yang melayani wilayah Bukit Intan mengalami penyusutan. Pompa harus digeser untuk menjaga keberlangsungan pengaliran,” jelas Agus.

Pekerjaan pergeseran tersebut telah rampung dan pasokan air mulai dicoba kembali. Namun, normalisasi aliran tidak serta-merta membuat tekanan air kembali seperti biasanya. Selain debit sumber air baku yang menurun, posisi pompa juga harus terus disesuaikan dengan kondisi permukaan air.

Harapan Warga: Jangan Sampai Keran Kembali Kering

Agus mengatakan, kondisi Kolong Bacang saat ini memang cukup mengkhawatirkan. Kolong Bacang yang sebelumnya menjadi sumber air sudah mengalami kekeringan. Pompa kemudian harus diarahkan semakin ke tengah kolong untuk mencari bagian yang masih memiliki kedalaman air.

Pergeseran pipa bahkan telah mencapai hampir 10 meter ke arah tengah. Persoalannya, jika kondisi cuaca tidak berubah dan hujan belum turun, kemampuan sumber air baku tersebut diperkirakan hanya mampu bertahan sekitar 10 hari ke depan.

Artinya, persoalan yang dirasakan warga Bukit Intan hari ini berpotensi kembali terjadi apabila kemarau terus berlanjut.

Agus berharap ada perubahan kondisi cuaca yang dapat menambah volume air baku di Kolong Bacang.

“Kita sama-sama berdoa agar hujan segera turun,” ujarnya.

Bukan Sekadar Persoalan Hari Ini

Kondisi tersebut sekaligus menjadi alarm bahwa persoalan ketersediaan air baku di Pangkalpinang membutuhkan solusi jangka panjang. Menurut Agus, Perumda Tirta Pinang tidak ingin persoalan serupa terus berulang setiap kali terjadi kemarau ekstrem.

Karena itu, pihaknya tengah mendorong pemerintah pusat dan instansi terkait agar pembangunan infrastruktur sumber air baku dapat kembali menjadi perhatian.

Salah satu yang diharapkan adalah realisasi Embung di kawasan Kampak berbatasan dengan Tuatunu yang sebelumnya telah lama didorong. Agus menyebut pembahasan mengenai embung tersebut sudah berlangsung sejak beberapa tahun lalu, termasuk proses pembebasan lahan.

Namun, rencana tersebut kemudian menghadapi perubahan kebijakan di tingkat pusat. Bagi pengelola air, keberadaan sumber air baku tambahan menjadi semakin penting karena kebutuhan pelanggan terus berjalan sementara kemampuan sumber air sangat bergantung pada kondisi alam.

Sumur Bor Bukan Jawaban Utama

Dalam kondisi darurat, solusi seperti sumur bor juga tidak mudah diterapkan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dalam jumlah besar.

Agus menjelaskan, kapasitas sumur bor yang memungkinkan di wilayah tersebut relatif kecil dibandingkan kebutuhan air baku Perumda. Sementara kebutuhan pasokan air baku untuk sistem pelayanan jauh lebih besar.

Kondisi geografis Bangka sebagai wilayah kepulauan juga menjadi tantangan tersendiri. Pengambilan air tanah dalam jumlah besar berpotensi menghadapi persoalan teknis maupun risiko masuknya air laut. Karena itu, sumber air permukaan dan pembangunan tampungan air baku menjadi salah satu pilihan yang dinilai lebih strategis.

Kalau Kritis, Armada Tangki Disiapkan

Untuk menghadapi kemungkinan kondisi semakin kritis, Perumda Tirta Pinang menyiapkan langkah darurat.

Agus mengatakan pihaknya akan mengerahkan armada tangki untuk membantu pelanggan apabila pasokan air melalui jaringan perpipaan tidak mampu memenuhi kebutuhan.

Langkah tersebut menjadi bentuk pelayanan darurat agar masyarakat tidak sepenuhnya kehilangan akses air bersih.

Namun, armada tangki tentu bukan solusi permanen. Warga tetap berharap keran-keran air kembali mengalir normal dan persoalan sumber air baku mendapatkan penyelesaian jangka panjang.

Kemarau pada akhirnya mengajarkan satu hal sederhana. Ketika air di alam semakin sedikit, persoalan air bersih akan dirasakan langsung sampai ke dalam rumah.

Di Perumahan Bangka Pos, ember-ember yang digunakan warga untuk menampung air menjadi gambaran kecil dari persoalan yang lebih besar. Hari ini warga masih bisa menunggu dan menampung.

Tetapi jika kemarau terus berlangsung dan cadangan Kolong Bacang benar-benar menipis dalam hitungan hari, pertanyaannya bukan lagi kapan air mengalir deras. Melainkan, dari mana air bersih untuk masyarakat akan didapatkan? (Radak)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    error: Content is protected !!