Aksi BEM Babel di Kantor DPRD Babel, (foto : Yuda Boy/Radak) PANGKALPINANG, OKEYBOZ.COM – Suasana di Gedung DPRD Bangka Belitung mendadak memanas. Aksi puluhan mahasiswa yang awalnya menyampaikan aspirasi berubah menjadi ketegangan setelah massa bergerak dari Kantor Gubernur Babel, Jumat (25/9/2026) sore.
Kedatangan mereka membawa sejumlah tuntutan yang berkaitan dengan berbagai persoalan yang dinilai menyentuh kepentingan masyarakat Bangka Belitung.
Setibanya di halaman Gedung DPRD Babel, massa mahasiswa disambut Ketua Komisi I DPRD Babel Pahlevi Syahrun.
Turut hadir Pj Sekda Babel Fery Afriyanto bersama sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Provinsi Babel.
Namun, suasana tidak berlangsung tenang. Ketegangan terjadi ketika aksi dorong-dorongan antara mahasiswa dengan aparat kepolisian dan anggota Satpol PP pecah di tengah penjagaan.
Situasi semakin memanas setelah sejumlah mahasiswa membakar ban bekas di lokasi aksi.
Asap hitam mengepul di tengah kerumunan massa, sementara mahasiswa terus menyuarakan tuntutan mereka.
Aparat kemudian berupaya menjaga situasi agar aksi tidak berkembang menjadi kericuhan yang lebih luas.
Di tengah suasana tersebut, komunikasi antara perwakilan mahasiswa dengan pihak DPRD dan pemerintah daerah akhirnya mengarah pada pelaksanaan audiensi.
Perwakilan massa kemudian diarahkan masuk untuk mengikuti pertemuan di ruang rapat Badan Musyawarah DPRD Babel.
Dalam audiensi itu, mahasiswa menyampaikan sejumlah persoalan yang mereka nilai perlu mendapatkan perhatian serius pemerintah daerah maupun DPRD Babel.
Penolakan terhadap rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) menjadi salah satu isu utama yang disuarakan. Selain itu, mahasiswa juga membawa persoalan pertimahan, konflik agraria, pendidikan, dan kesehatan.
Sejumlah program pemerintah turut menjadi sorotan, di antaranya Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Persoalan bahan bakar minyak (BBM) juga menjadi bagian dari aspirasi mahasiswa. Isu tersebut dinilai berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat serta aktivitas ekonomi di daerah.
Rangkaian aksi tersebut menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi masyarakat Babel tidak hanya berkutat pada satu sektor. Pertambangan, energi, agraria, pendidikan, kesehatan hingga kebutuhan dasar masyarakat menjadi isu yang dibawa mahasiswa ke hadapan para wakil rakyat dan pemerintah daerah.
Melalui aksi dan audiensi tersebut, mahasiswa meminta DPRD Babel serta Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tidak sekadar menerima aspirasi, tetapi juga memberikan tindak lanjut konkret terhadap berbagai persoalan yang mereka sampaikan.
Aksi yang sempat memanas itu akhirnya berlanjut dalam ruang dialog. Namun, substansi tuntutan mahasiswa kini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah dan DPRD Babel untuk menjawabnya melalui kebijakan maupun langkah nyata. (Radak)
Tidak ada komentar