Aksi BEM Babel di Kantor DPRD Babel, (foto : Yuda Boy/Radak) PANGKALPINANG, OKEYBOZ.COM – Suara penolakan terhadap PLTN menggema dari halaman DPRD Bangka Belitung. Puluhan mahasiswa yang turun aksi, Jumat (25/9/2026), menempatkan rencana pembangunan pembangkit nuklir sebagai salah satu tuntutan utama mereka.
Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung datang membawa sejumlah persoalan yang mereka nilai berkaitan langsung dengan kepentingan masyarakat.
Di antara berbagai tuntutan tersebut, isu PLTN menjadi sorotan serius. Mahasiswa menyatakan sikap penolakan terhadap rencana pembangunan pembangkit listrik berbasis nuklir tersebut.
Bagi mahasiswa, rencana pembangunan PLTN bukan sekadar persoalan penyediaan energi, tetapi menyangkut masa depan lingkungan, keselamatan masyarakat, ruang hidup serta keberlanjutan wilayah Bangka Belitung.
Penolakan itu juga muncul di tengah berbagai persoalan daerah yang masih menjadi perhatian publik, mulai dari pertambangan, konflik agraria, pendidikan, kesehatan hingga persoalan BBM.
PLTN Dipersoalkan di Tengah Isu Lingkungan
Masuknya isu PLTN dalam tuntutan mahasiswa menunjukkan bahwa rencana pemanfaatan energi nuklir di Bangka Belitung telah menjadi bagian dari perdebatan publik.
Mahasiswa meminta pemerintah dan DPRD tidak hanya melihat pembangunan PLTN dari perspektif kebutuhan energi dan investasi. Aspek keselamatan, lingkungan dan penerimaan masyarakat juga dinilai perlu menjadi pertimbangan utama.
Apalagi Bangka Belitung memiliki wilayah pesisir dan masyarakat yang menggantungkan kehidupan pada sumber daya laut.
Karena itu, setiap rencana pembangunan infrastruktur energi berskala besar, terlebih yang berkaitan dengan teknologi nuklir, dituntut untuk dikaji secara terbuka dan melibatkan masyarakat.
Suara penolakan mahasiswa menjadi pesan bahwa persoalan PLTN tidak bisa hanya dibicarakan di ruang-ruang birokrasi. Masyarakat, akademisi, kelompok lingkungan, nelayan dan elemen sipil lainnya juga memiliki kepentingan terhadap masa depan wilayah tersebut.
Aksi Sempat Memanas
Penyampaian aspirasi mahasiswa di depan DPRD Babel sempat berlangsung tegang.
Sejumlah mahasiswa berupaya membakar ban di lokasi aksi. Petugas kepolisian yang berjaga kemudian berusaha mencegah tindakan tersebut. Situasi sempat memicu aksi dorong-dorongan antara mahasiswa dan aparat.
Namun aksi tetap dilanjutkan. Mahasiswa kembali menyampaikan berbagai tuntutan yang mereka bawa, termasuk penolakan terhadap PLTN.
DPRD Diminta Tidak Mengabaikan Aspirasi
Aksi tersebut sekaligus menempatkan DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada posisi penting dalam merespons suara masyarakat terkait rencana PLTN.
Mahasiswa tidak hanya membawa isu energi, tetapi juga mengaitkannya dengan persoalan lingkungan dan arah pembangunan Babel ke depan.
Penolakan terhadap PLTN yang disuarakan mahasiswa menjadi bagian dari dinamika publik yang perlu mendapat ruang untuk dibahas secara terbuka.
Sebab, pembangunan energi berskala besar bukan hanya berbicara mengenai berapa megawatt listrik yang dapat dihasilkan, tetapi juga mengenai siapa yang menanggung risiko, bagaimana keselamatan dijamin, bagaimana lingkungan dilindungi, serta sejauh mana masyarakat dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan.
Aksi Jumat sore itu akhirnya menjadi panggung bagi mahasiswa untuk menyampaikan satu pesan penting, yakni rencana PLTN di Bangka Belitung tidak boleh berjalan tanpa mendengar suara masyarakat yang akan hidup berdampingan dengan proyek tersebut. (Radak)
Tidak ada komentar