Bangka Tengah Perkuat Basis Data dan Pendampingan Keluarga dalam Percepatan Penurunan Stunting

waktu baca 2 menit
Jumat, 25 Sep 2026 19:15 33

BANGKA TENGAH, OKEYBOZ.COM — Upaya percepatan penurunan stunting di Kabupaten Bangka Tengah tidak hanya diarahkan pada intervensi kesehatan, tetapi juga pada penguatan pendampingan keluarga dan ketepatan sasaran program.

Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBPPPA) Bangka Tengah memperkuat peran Tim Pendamping Keluarga (TPK) sekaligus melakukan pemutakhiran data keluarga risiko stunting.

Kepala DPPKBPPPA Bangka Tengah Wiwik Susanti mengatakan terdapat 143 Tim Pendamping Keluarga dengan 429 kader yang tersebar di 63 desa/kelurahan.

“Pendampingan terhadap keluarga risiko stunting dilakukan oleh Tim Pendamping Keluarga melalui edukasi, pemantauan, pelayanan kesehatan, serta pencatatan dan pelaporan hasil pendampingan,” kata Wiwik, Jumat (25/9/2026) di Koba.

Menurut dia, akurasi data menjadi salah satu fondasi penting dalam pelaksanaan intervensi. Karena itu, DPPKBPPPA melakukan verifikasi dan validasi keluarga risiko stunting melalui kader Institusi Masyarakat Pedesaan (IMP).

Pendekatan tersebut diarahkan agar intervensi pemerintah tidak berhenti pada distribusi bantuan, tetapi berbasis pada kondisi dan kebutuhan masing-masing keluarga.

Penguatan kapasitas juga dilakukan terhadap tenaga lini lapangan di Balai Penyuluhan KB. Mereka didorong memiliki kemampuan yang memadai dalam menjalankan program pembangunan keluarga, kependudukan dan keluarga berencana atau Bangga Kencana.

Pada tingkat komunitas, DPPKBPPPA menjalankan Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT) di lima desa/kelurahan Kecamatan Sungaiselan, yakni Kelurahan Sungaiselan, Desa Romadhon, Desa Sarang Mandi, Desa Tanjung Pura dan Desa Keretak Atas.

Sebanyak 250 keluarga risiko stunting menjadi sasaran pendampingan dalam program tersebut.

“Total KRS yang dilakukan pendampingan sebanyak 250 KRS,” ujar Wiwik.

Intervensi juga diperluas melalui Posyandu dengan melibatkan organisasi perangkat daerah. Sasaran pendampingan mencakup ibu hamil, bayi di bawah dua tahun, balita, remaja hingga lanjut usia.

Selain pemantauan pertumbuhan dan perkembangan, kegiatan meliputi penimbangan, pengukuran tinggi badan dan pemeriksaan kesehatan.

Sementara melalui Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING), pemerintah daerah membangun pola kolaborasi dengan berbagai lembaga dan mitra.

Program yang telah berjalan sejak 2025 itu memiliki sasaran awal 1.136 keluarga risiko stunting. Pada 2026, sasaran tercatat sebanyak 1.023 keluarga risiko stunting.

Sejumlah pihak terlibat dalam dukungan tersebut, antara lain Baznas, OJK, Bank Sumsel Babel, Sekretariat Daerah, OPD, UPT BKN Provinsi, Kementerian Agama dan Bank Syariah Babel.

Dukungan diberikan dalam bentuk pemenuhan nutrisi, jamban sehat hingga bantuan rumah layak huni.

Wiwik menuturkan, pendekatan pendampingan diperlukan agar penanganan stunting tidak hanya berorientasi pada penanganan kondisi anak, tetapi juga menyentuh faktor keluarga yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang.

“Pendampingan dilakukan agar keluarga memiliki pengetahuan dan kebiasaan yang mendukung pencegahan stunting. Karena itu, edukasi, pemantauan dan perubahan perilaku menjadi bagian penting dari intervensi,” pungkasnya.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    error: Content is protected !!