Editor : Dirga.
OKEYBOZ.COM, BANGKA BARAT – Wilayah tambang di Keranggan dan Tembelok, Kabupaten Bangka Barat, kembali menjadi sorotan. Pasalnya, lokasi yang dikenal produktif ini sebelumnya sempat menjadi perbincangan hangat karena menghasilkan ratusan ton pasir timah dalam satu hari beberapa bulan lalu.
Namun, kejayaan tersebut terhenti secara tiba-tiba setelah hanya dua bulan beroperasi. Alasan yang mencuat saat itu bervariasi, ada yang bilang kondisi pengurusan yang belum terkoordinasi dengan baik, ditambah spekulasi bahwa penghentian sementara ini berkaitan dengan suhu politik menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.
Kini, tambang timah yang disebut-sebut sebagai lokasi “seksi” bagi para penambang ini kembali bergeliat.
Teranyar, aktivitas tambang di Keranggan resmi dimulai pada 4 Desember 2024, diikuti oleh Tembelok sehari kemudian, 5 Desember 2024. Informasi ini dikonfirmasi oleh seorang sumber lokal kepada tim Jobber (Jurnalis Babel Bergerak).
Nama lama yang tidak asing di dunia tambang timah, Aj, kembali muncul sebagai sosok kunci yang mengoordinasikan aktivitas tambang di kedua wilayah tersebut.
Keterlibatannya menjadi penanda bahwa operasi tambang di Keranggan dan Tembelok masih berada di bawah kendali aktor-aktor berpengalaman.
“Keranggan mulai jalan tanggal 4 Desember, sedangkan Tembelok 5 Desember 2024. Kalau koordinasi di bawah Aj, Bang,” ungkapnya.
Pantauan di lokasi menunjukkan perbedaan mencolok antara dua wilayah tambang ini. Keranggan langsung bergerak agresif dengan ratusan ponton tambang yang telah beroperasi.
Di sisi lain, Tembelok baru memulai langkah awalnya dengan jumlah belasan ponton yang terlihat di lapangan.
Hal ini menunjukkan bahwa wilayah Keranggan tetap menjadi primadona bagi para penambang, mengukuhkan reputasinya sebagai tambang produktif.
Kembalinya aktivitas tambang ini menjadi perhatian masyarakat dan pemerintah daerah. Keberlanjutan operasi tambang, pengelolaan lingkungan, serta transparansi dalam pengurusan izin menjadi isu yang terus diangkat oleh berbagai pihak. Tidak hanya soal potensi ekonominya, tetapi juga dampaknya terhadap ekosistem sekitar.
Dengan kembalinya aktivitas tambang di Keranggan dan Tembelok, perhatian kini tertuju pada bagaimana pengelolaan tambang ini dilakukan. Apakah langkah-langkah mitigasi lingkungan sudah diterapkan dengan baik? Dan sejauh mana peran pemerintah daerah serta pihak terkait dalam mengawasi aktivitas tambang ini?
Pengamat pertambangan lokal menyebutkan bahwa produktivitas tambang di wilayah ini perlu diiringi dengan regulasi yang jelas dan pengawasan yang ketat untuk mencegah kerusakan lingkungan yang tidak terkendali.
Kehadiran kembali tambang di Keranggan dan Tembelok diharapkan mampu memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat tanpa mengorbankan keberlanjutan lingkungan. Namun, hanya waktu yang akan menjawab apakah pengelolaan tambang ini mampu menjaga keseimbangan antara keuntungan ekonomi dan dampak ekologis. (JB/okeyboz)
Tidak ada komentar