
Penulis: Yuda Radak
PANGKALPINANG, OKEYBOZ.COM– Pagi di Pasar Besar Pangkalpinang biasanya diwarnai suara pedagang menawarkan dagangan dan pembeli yang sibuk memilih kebutuhan dapur. Namun belakangan, ada satu komoditas yang membuat pembeli harus lebih lama berpikir sebelum memasukkannya ke dalam keranjang belanja, yaitu daging ayam potong.
Harga ayam yang sebelumnya masih berada di kisaran Rp40 ribu hingga Rp45 ribu per kilogram, kini bergerak naik menjadi Rp45 ribu sampai Rp50 ribu per kilogram.
Bagi sebagian pembeli, selisih beberapa ribu rupiah mungkin terlihat kecil. Tetapi bagi keluarga yang harus mengatur pengeluaran harian secara ketat, kenaikan tersebut membuat menu makan di rumah ikut dihitung ulang.
Ayam yang sebelumnya bisa dibeli lebih banyak, kini cukup untuk kebutuhan hari itu. Bahkan, tidak sedikit konsumen yang mulai melirik lauk lain yang harganya dianggap lebih bersahabat dengan isi dompet.
Di sisi lain, kenaikan harga ayam ternyata tidak serta-merta membuat pedagang mendapatkan keuntungan lebih besar.
Justru sebaliknya, pedagang dihadapkan pada persoalan baru, yakni barang semakin sulit didapat, sementara keuntungan yang tersisa semakin tipis.
Bujang (29), salah seorang pedagang, mengatakan pasokan ayam ke pasar saat ini mulai berkurang. Kondisi tersebut membuat pedagang harus berebut mendapatkan stok dari pemasok.
“Pasokan ayam sekarang berkurang. Ada pedagang yang berhenti sementara berjualan karena tidak mendapatkan barang. Kalau dapat pun, untungnya tipis,” ujar Bujang, Jumat (4/9/2026).
Situasi itu membuat perdagangan ayam berada dalam posisi serba sulit. Ketika pasokan berkurang, harga dari pemasok naik. Pedagang kemudian harus menyesuaikan harga jual agar tidak mengalami kerugian. Namun ketika harga dinaikkan, konsumen justru semakin berhati-hati berbelanja.
Pedagang pun berada di antara dua tekanan, antara mencari barang dan mempertahankan pembeli.
Bagi konsumen, ayam bukan sekadar komoditas di pasar. Ia adalah lauk yang kerap hadir di meja makan keluarga.
Ayam goreng, ayam gulai, ayam kecap hingga berbagai olahan sederhana menjadi menu yang relatif mudah disiapkan. Karena itu, ketika harganya meningkat, dampaknya langsung terasa dalam belanja rumah tangga.
Konsumen kini cenderung membeli berdasarkan kebutuhan. Jika sebelumnya bisa membeli dalam jumlah lebih banyak untuk persediaan beberapa hari, kini pembelian dilakukan secukupnya.
Ada pula yang memilih mengurangi porsi pembelian atau menggantinya dengan lauk alternatif yang lebih murah.
Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana perubahan harga di pasar tidak berhenti pada angka yang tertulis di papan harga. Kenaikan harga ayam perlahan masuk ke dapur-dapur rumah tangga dan memengaruhi cara masyarakat mengatur kebutuhan sehari-hari.
Pedagang Ikut Tertekan
Ironisnya, ketika harga ayam mencapai Rp50 ribu per kilogram, bukan berarti pedagang sedang menikmati keuntungan besar.
Pasokan yang terbatas justru membuat biaya mendapatkan ayam menjadi lebih tinggi. Sementara itu, pedagang tidak bisa sembarangan menaikkan harga karena harus mempertimbangkan kemampuan konsumen.
Jika harga terlalu tinggi, pembeli mengurangi belanja.
Jika harga ditekan terlalu rendah, keuntungan pedagang semakin kecil. Dalam kondisi tertentu, pilihan paling berat bahkan dilakukan sebagian pedagang: berhenti sementara berjualan karena tidak mendapatkan pasokan ayam.
Pasar akhirnya menghadapi situasi yang saling berkaitan. Pasokan berkurang, harga naik, daya beli melemah, pembelian menurun, sementara pedagang tetap harus menanggung biaya operasional.
Para pedagang berharap kondisi pasokan ayam segera kembali normal. Bagi mereka, kestabilan pasokan menjadi salah satu kunci agar harga kembali lebih terjangkau dan aktivitas perdagangan dapat berjalan seperti biasa.
Mereka juga berharap daya beli masyarakat membaik.
Sebab bagi pedagang pasar, keuntungan tidak hanya ditentukan oleh tingginya harga jual. Yang jauh lebih penting adalah barang tersedia, pembeli datang, dan transaksi terus berlangsung.
Harga ayam yang kini menyentuh Rp50 ribu per kilogram akhirnya menjadi cerita tentang dua sisi yang sama-sama harus bertahan.
Di satu sisi, konsumen harus merogoh kocek lebih dalam untuk menghadirkan ayam di meja makan. Di sisi lain, pedagang harus bertahan menghadapi pasokan yang terbatas dan keuntungan yang semakin tipis.
Di tengah hiruk-pikuk Pasar Besar Pangkalpinang, sepotong ayam kini bukan lagi sekadar lauk. Ia telah menjadi bagian dari perhitungan ekonomi rumah tangga—berapa yang mampu dibeli, berapa yang harus dikurangi, dan lauk apa yang masih sanggup dibawa pulang. (OB)
Tidak ada komentar