Timah Kembali Menggoda, Harga Disebut Tembus Rp500 Ribu/Kg dan Warga Mulai Beralih

waktu baca 2 menit
Kamis, 17 Sep 2026 16:53 16 dika okeyboz

PANGKALPINANG, OKEYBOZ.COM – Harga timah yang disebut-sebut kembali merangkak hingga menyentuh Rp500 ribu per kilogram membawa angin segar bagi masyarakat Bangka Belitung.

Namun di balik kabar manis itu, ada pertanyaan lama yang kembali mengetuk seberapa jauh ekonomi masyarakat Babel masih bergantung pada timah?

Kenaikan harga komoditas timah bukan sekadar soal angka di pasar. Di Babel, harga timah kerap menjadi pemicu perubahan aktivitas ekonomi masyarakat. Ketika harga menguat, geliat penambangan kembali terasa. Ketika harga melemah, banyak pekerja tambang harus mencari sumber penghasilan lain.

Kondisi tersebut turut disoroti Jumi, warga Pangkalpinang. Ia menyebut, saat ini cukup banyak masyarakat yang sebelumnya menggantungkan hidup sebagai nelayan maupun petani, namun beralih profesi menjadi penambang timah karena pertimbangan ekonomi.

“Sekarang banyak nelayan dan petani yang beralih menjadi penambang timah,” ujar Jumi.

Menurutnya, persoalan tersebut menunjukkan bahwa daya tarik timah masih sangat kuat di tengah masyarakat. Ketika hasil dari sektor pertanian dan perikanan dianggap tidak sebanding dengan kebutuhan hidup, tambang menjadi pilihan yang dinilai lebih menjanjikan.

Namun di balik euforia harga tinggi, ada pertanyaan besar yang kembali menghantui Babel.

Apakah kenaikan harga timah benar-benar menjadi berkah bagi masyarakat, atau justru kembali mendorong eksploitasi tambang tanpa kendali?

Sebab, semakin tinggi nilai timah, semakin besar pula insentif ekonomi untuk menggali setiap jengkal tanah yang dianggap memiliki kandungan timah.

Di titik inilah pemerintah dituntut tidak hanya berbicara soal peningkatan ekonomi, tetapi juga memastikan aktivitas pertambangan berjalan sesuai aturan, memiliki kepastian legalitas, memperhatikan keselamatan pekerja, serta tidak mengorbankan lingkungan dan mata pencaharian masyarakat lain.

Babel sudah terlalu lama hidup dalam bayang-bayang timah.

Harga boleh melonjak. Penghasilan masyarakat boleh meningkat. Tetapi jangan sampai kekayaan timah kembali dibayar mahal dengan kerusakan lingkungan, konflik lahan, dan hilangnya masa depan sektor pertanian serta perikanan.

Kini yang dibutuhkan bukan sekadar euforia karena harga timah menyentuh angka tinggi, melainkan kebijakan yang mampu memastikan keuntungan dari kekayaan alam benar-benar kembali kepada masyarakat Bangka Belitung. (RADAK)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    error: Content is protected !!