Di Tengah Kemarau, Bripka Parjani Wakafkan Tanah, La Ode dan Wira Bangun Sumur untuk Warga

waktu baca 6 menit
Sabtu, 10 Okt 2026 18:17 20 dika okeyboz

PANGKALPINANG, OKEYBOZ.COM – Tak sekadar menjalankan tugas sebagai anggota Polri, Bripka Parjani menunjukkan kepedulian kepada masyarakat melalui wakaf sebidang tanah.

Lahan di Jalan Belakang Polsek Gerunggang, kawasan Tua-Tua Indah, Pangkalpinang, itu disiapkan sebagai lokasi sumur bor untuk membantu memenuhi kebutuhan air warga di tengah musim kemarau.

Keputusan Bripka Parjani tersebut bukan sekadar memberikan sebidang tanah. Lebih dari itu, langkah ini merupakan wujud kepedulian terhadap tetangga dan lingkungan, terutama ketika warga membutuhkan akses air bersih untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Di saat musim panas berkepanjangan membuat ketersediaan air menjadi persoalan bagi sebagian masyarakat, kehadiran sumur bor diharapkan menjadi sumber harapan baru.

Air yang nantinya dapat dimanfaatkan bersama itu bukan hanya membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga, tetapi juga menjadi simbol tumbuhnya solidaritas dan semangat kebersamaan di tengah masyarakat.

Keikhlasan yang Menghadirkan Manfaat Bersama

Bagi Bripka Parjani, tanah yang diwakafkannya diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas daripada sekadar menjadi bagian dari kepemilikan pribadi.

Tanah tersebut kini diperuntukkan sebagai lokasi sumur yang dapat digunakan masyarakat sekitar.

Keikhlasan ini menunjukkan bahwa kepedulian sosial tidak selalu harus diwujudkan melalui bantuan materi dalam jumlah besar. Terkadang, sesuatu yang dimiliki dan diberikan dengan tulus justru mampu menghadirkan manfaat bagi banyak orang.

Dalam kehidupan bertetangga, kepedulian seperti ini memiliki arti yang mendalam. Tetangga merupakan orang-orang terdekat yang sering kali menjadi pihak pertama ketika seseorang menghadapi kesulitan.

Karena itu, saling membantu dan menjaga hubungan baik bukan sekadar kebiasaan sosial, melainkan bagian penting dari kehidupan bermasyarakat.

Filosofi bertetangga mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak hanya lahir dari apa yang dimiliki sendiri, tetapi juga dari kemampuan berbagi dengan orang-orang di sekitar. Ketika satu keluarga mengalami kesulitan mendapatkan air, kepedulian tetangga dapat menjadi jalan keluar.

Ketika satu orang bersedia menyediakan tanah, sementara orang lain membantu biaya pembangunan, sebuah kebutuhan bersama dapat diatasi melalui semangat gotong royong. Inilah nilai yang tercermin dari langkah Bripka Parjani.

La Ode dan Wira Turut Bergotong Royong

Pembangunan sumur tersebut juga menjadi bukti bahwa kepedulian akan semakin kuat ketika dilakukan bersama-sama. Biaya pembuatan sumur ditanggung oleh La Ode M. Murdani, CEO Radak Babel, bersama Wira Dwi Syahputra, seorang anggota Polri.

Keduanya turut bergotong royong agar tanah yang telah diwakafkan Bripka Parjani dapat dimanfaatkan sebagai sumber air bagi masyarakat.

Keterlibatan La Ode dan Wira memperlihatkan bahwa membantu sesama tidak harus menunggu adanya program besar atau gerakan resmi.

Kepedulian dapat dimulai dari lingkungan terdekat, dengan melihat kebutuhan nyata yang sedang dihadapi masyarakat.

La Ode menegaskan bahwa sumur tersebut tidak dibangun untuk kepentingan pribadi, melainkan agar manfaatnya dapat dirasakan bersama.

“Sumur ini juga bukan untuk pribadi kami, tapi kami membuka untuk masyarakat sekitar yang butuh air,” ujar La Ode.

Pernyataan tersebut menegaskan tujuan utama pembangunan sumur, yakni menyediakan akses air bagi warga yang membutuhkan, khususnya di tengah kondisi cuaca panas yang berkepanjangan.

Jika tanah merupakan bentuk pemberian dari Bripka Parjani, maka pembiayaan pembangunan oleh La Ode dan Wira menjadi bentuk kepedulian yang melengkapi ikhtiar tersebut.

Ketiganya mengambil peran berbeda, tetapi memiliki tujuan yang sama, yaitu membantu masyarakat memperoleh air untuk kehidupan sehari-hari. Dari sinilah semangat gotong royong menemukan wujud nyatanya. Tidak semua orang harus memberikan hal yang sama.

Ada yang menyumbangkan tanah, ada yang membantu biaya, dan ada pula yang ikut menjaga serta merawat fasilitas yang dibangun untuk kepentingan bersama.

Wakaf dalam Pandangan Islam

Dalam ajaran Islam, wakaf merupakan tindakan menahan atau menetapkan suatu harta agar manfaatnya dapat digunakan untuk kepentingan yang dibenarkan syariat.

Harta pokok wakaf dipertahankan, sementara manfaatnya diperuntukkan bagi masyarakat atau tujuan kebaikan.

Wakaf memiliki kedudukan penting karena mengajarkan umat Islam untuk tidak hanya memikirkan kepentingan pribadi, tetapi juga menghadirkan manfaat yang berkelanjutan bagi orang lain.

Dalam sebuah hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa ketika seseorang meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga perkara, salah satunya adalah sedekah jariyah.

Wakaf yang memenuhi ketentuan syariat merupakan salah satu bentuk sedekah jariyah.

Selama harta yang diwakafkan terus memberikan manfaat, wakaf tersebut diharapkan menjadi jalan kebaikan yang pahalanya terus mengalir bagi orang yang mewakafkannya.

Karena itu, tanah yang diwakafkan untuk lokasi sumur memiliki makna lebih dari sekadar penyediaan tempat. Apabila dikelola sesuai ketentuan wakaf dan terus memberikan manfaat, tanah tersebut dapat menjadi bagian dari ikhtiar amal jariyah.

Air sendiri mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan. Air diperlukan untuk minum, memasak, membersihkan diri, mencuci, dan berbagai kebutuhan dasar lainnya.

Menyediakan akses air bagi masyarakat yang membutuhkan merupakan bentuk kepedulian kemanusiaan yang sejalan dengan nilai-nilai Islam.

Dalam konteks ini, keikhlasan Bripka Parjani, La Ode M. Murdani, dan Wira Dwi Syahputra menunjukkan bahwa nilai ibadah dapat diwujudkan melalui tindakan nyata yang membantu kehidupan sesama.

Menjadi Teladan Kepedulian terhadap Lingkungan

Langkah Bripka Parjani sebagai anggota Polri yang bersedia mewakafkan tanahnya diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat lainnya. Kepedulian terhadap lingkungan tidak selalu harus diwujudkan melalui kegiatan besar.

Membantu menyediakan kebutuhan dasar warga, menjaga fasilitas umum, berbagi sumber daya, serta bergotong royong mengatasi persoalan lingkungan merupakan bagian dari kontribusi nyata bagi masyarakat.

Terlebih pada musim kemarau, ketika air menjadi kebutuhan mendesak, inisiatif seperti pembangunan sumur bersama dapat memberikan arti besar bagi kehidupan warga.

Keteladanan ini juga memperlihatkan bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak hanya dapat dilakukan melalui tugas formal, tetapi juga melalui tindakan sosial yang lahir dari kesadaran dan keikhlasan pribadi.

Bagi La Ode dan Wira, keterlibatan dalam pembiayaan sumur menjadi wujud bahwa kepedulian dapat diwujudkan melalui kerja sama lintas peran.

Ketika kepedulian bertemu dengan kemauan untuk berbagi, kebutuhan masyarakat yang semula sulit dipenuhi dapat diupayakan bersama.

Tentu, agar manfaat sumur dapat berlangsung dalam jangka panjang, diperlukan pula kesadaran bersama untuk menjaga kebersihan, merawat fasilitas, dan menggunakan air secara bijaksana.

Dengan demikian, sumur tersebut tidak hanya menjadi sumber air, tetapi juga ruang tumbuhnya rasa memiliki, tanggung jawab, dan persaudaraan di lingkungan warga.

Dari Keikhlasan, Tumbuh Harapan

Sumur di Jalan Belakang Polsek Gerunggang, kawasan Tua-Tua Indah, Pangkalpinang ini, menjadi gambaran bahwa kebaikan sering kali bermula dari langkah sederhana.

Bripka Parjani membuka jalan melalui wakaf tanah. Sementara La Ode M. Murdani dan Wira Dwi Syahputra melengkapi ikhtiar tersebut dengan bergotong royong membiayai pembangunannya.

Ketiganya memperlihatkan bahwa kepedulian bukan hanya tentang niat baik, melainkan juga kesediaan mengambil bagian dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi sesama.

Harapannya, sumur ini dapat memberikan kebahagiaan bagi masyarakat sekitar dan membantu memenuhi kebutuhan air sehari-hari di tengah musim kemarau.

Lebih dari itu, semoga langkah ini menumbuhkan semangat berbagi dan menginspirasi warga lainnya untuk saling membantu sesuai kemampuan masing-masing.

Sebab, dalam kehidupan bertetangga, air yang mengalir dari sebuah sumur dapat membawa makna yang jauh lebih besar daripada manfaat fisiknya.

Ia menjadi pengingat bahwa kepedulian, keikhlasan, dan gotong royong adalah sumber kekuatan yang mampu menyatukan masyarakat.

Dari sebidang tanah yang diwakafkan, biaya yang dikumpulkan dengan semangat kebersamaan, dan niat tulus membantu sesama, tumbuh sebuah harapan bahwa tidak ada tetangga yang dibiarkan menghadapi kesulitan sendirian.

Semoga setiap tetes air yang kelak dimanfaatkan warga menjadi keberkahan bagi Bripka Parjani, La Ode M. Murdani, dan Wira Dwi Syahputra, serta menjadi amal kebaikan yang terus memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

Karena sejatinya, kebaikan yang paling bermakna bukan hanya yang dinikmati sendiri, melainkan yang manfaatnya dapat dirasakan bersama. (Radak)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    error: Content is protected !!