Dari 1,51 ke 2,14 Persen, Stunting di Pangkalpinang Menunjukkan Tren Kenaikan

waktu baca 4 menit
Sabtu, 10 Okt 2026 13:11 21 dika okeyboz

PANGKALPINANG, OKEYBOZ.COM – Angka stunting pada balita di Kota Pangkalpinang mengalami peningkatan sepanjang 2026. Dinas Kesehatan setempat mencatat 279 balita mengalami stunting hingga September, dengan persentase naik 0,63 poin dibandingkan tahun sebelumnya.

Kenaikan ini menjadi pengingat bahwa upaya memperbaiki kualitas kesehatan dan tumbuh kembang anak masih membutuhkan perhatian bersama. Penanganan stunting tidak cukup hanya melalui pelayanan kesehatan, tetapi juga harus menyentuh kondisi lingkungan, pemenuhan gizi, serta perubahan perilaku masyarakat.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pangkalpinang, dr. Hisar Manalu, menyampaikan perkembangan tersebut saat diwawancarai pada Jumat (9/10/2026).

Menurut Hisar, berdasarkan kajian prediktor stunting yang dilakukan tim riset Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) bersama tim ahli Poltekkes, terdapat sejumlah faktor yang berkontribusi terhadap persoalan stunting di Pangkalpinang.

Di antaranya adalah infeksi yang berkaitan dengan faktor lingkungan serta bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR).

Faktor-faktor tersebut menunjukkan bahwa pencegahan stunting perlu dilakukan sejak dini, bahkan sebelum bayi dilahirkan. Kondisi kesehatan ibu selama kehamilan, kecukupan asupan gizi, pencegahan anemia, serta lingkungan yang mendukung kesehatan anak menjadi bagian penting dalam upaya menekan risiko stunting.

Bukit Intan dan Air Mawar Menjadi Perhatian

Berdasarkan pemetaan wilayah, Kecamatan Bukit Intan dan Kelurahan Air Mawar tercatat sebagai wilayah dengan angka stunting tertinggi di Kota Pangkalpinang.

Kondisi ini menjadi perhatian dalam menentukan sasaran intervensi agar program penanganan stunting dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan secara lebih tepat.

Pemantauan terhadap balita yang mengalami masalah gizi terus dilakukan. Dinas Kesehatan juga memberikan perhatian kepada ibu hamil yang berisiko mengalami kekurangan energi kronis (KEK) maupun anemia, karena kondisi kesehatan ibu turut memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.

Selain itu, edukasi kesehatan dan gizi bagi remaja putri terus diperkuat sebagai bagian dari upaya pencegahan jangka panjang. Langkah ini penting untuk mempersiapkan generasi muda agar memiliki kondisi kesehatan yang baik sebelum memasuki masa kehamilan.

Intervensi Gizi Diperkuat

Untuk menekan angka stunting, Dinas Kesehatan Kota Pangkalpinang terus menjalankan berbagai program rutin dan intervensi gizi.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah pemberian makanan tambahan (PMT) berbahan pangan lokal bagi ibu hamil yang mengalami atau berisiko mengalami KEK, serta balita yang memiliki masalah gizi.

Program tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan gizi kelompok sasaran sekaligus memperkuat upaya pencegahan gangguan pertumbuhan pada anak.

Dinas Kesehatan juga memberikan tablet tambah darah kepada remaja putri, melakukan pemeriksaan anemia pada remaja dan ibu hamil, serta membudayakan kegiatan Aksi Bergizi di sekolah.

Berbagai program tersebut merupakan bagian dari upaya membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya pemenuhan gizi sejak usia remaja, selama kehamilan, hingga masa pertumbuhan anak.

Namun, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan layanan kesehatan. Dukungan keluarga, pemahaman orang tua mengenai gizi anak, serta penerapan perilaku hidup sehat di lingkungan masyarakat juga menjadi faktor penting.

Koordinasi Lintas Sektor Masih Menjadi Tantangan

Di balik pelaksanaan berbagai program tersebut, penanganan stunting di Pangkalpinang masih menghadapi sejumlah kendala.

Hisar mengungkapkan, koordinasi lintas sektor dinilai belum optimal dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang ditemukan di tengah masyarakat. Selain itu, perubahan perilaku masyarakat ke arah yang lebih baik juga masih menjadi tantangan.

Menurutnya, persoalan stunting memiliki cakupan yang luas sehingga tidak dapat dibebankan hanya kepada sektor kesehatan.

Diperlukan keterlibatan berbagai pihak untuk menangani faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan dan pertumbuhan anak, termasuk kondisi lingkungan, pemenuhan kebutuhan gizi, serta aspek sosial yang berkaitan dengan kehidupan keluarga.

Hisar berharap koordinasi antarsektor dapat semakin diperkuat sehingga penanganan stunting berjalan lebih terpadu dan mampu menjangkau berbagai penyebab persoalan tersebut.

“Bukan hanya kesehatan yang berperan, upaya-upaya lain di sektor intervensi sensitif lebih banyak dibutuhkan,” demikian harapan Hisar.

Menekan Stunting Membutuhkan Komitmen Bersama

Peningkatan persentase stunting dari 1,51 persen pada 2025 menjadi 2,14 persen pada 2026 menjadi tantangan bagi Pemerintah Kota Pangkalpinang untuk memperkuat strategi pencegahan dan penanganan.

Dengan 279 balita tercatat mengalami stunting hingga September 2026, diperlukan upaya berkelanjutan untuk memastikan anak-anak mendapatkan perhatian, pemantauan pertumbuhan, serta dukungan gizi sesuai kebutuhan.

Penguatan koordinasi pemerintah daerah, tenaga kesehatan, lembaga pendidikan, keluarga, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam upaya tersebut.

Penanganan yang terpadu diharapkan tidak hanya membantu menekan angka stunting, tetapi juga meningkatkan kualitas kesehatan anak dan mendukung tumbuh kembang mereka secara optimal.

Sebab, persoalan stunting bukan semata-mata tentang angka statistik. Di balik setiap data terdapat anak-anak yang membutuhkan perhatian dan dukungan agar dapat tumbuh sehat, berkembang sesuai potensinya, serta memiliki kesempatan yang lebih baik untuk meraih masa depan. (Yuda/Radak)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    error: Content is protected !!