Foto : IlustrasiPANGKALPINANG, OKEYBOZ.COM – Ancaman kekeringan belum berlalu, sementara potensi banjir sudah menanti ketika hujan tiba. Itulah risiko yang perlu diantisipasi Bangka Belitung menyusul mundurnya awal musim hujan.
BMKG mengeluarkan enam rekomendasi untuk mendorong kesiapsiagaan pemerintah daerah dan masyarakat menghadapi dampak perubahan musim.
Melalui Stasiun Klimatologi Bangka Belitung, BMKG mengeluarkan enam rekomendasi antisipasi yang mencakup sektor pangan, sumber daya air, energi, lingkungan, kesehatan, dan kebencanaan.
Mundurnya musim hujan bukan sekadar persoalan pergeseran waktu turunnya hujan. Kondisi tersebut juga berpotensi memengaruhi ketersediaan air bersih, produktivitas pertanian, kualitas udara, hingga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Di sisi lain, ketika musim hujan mulai berlangsung, masyarakat juga perlu mewaspadai kemungkinan munculnya bencana hidrometeorologi, terutama banjir dan tanah longsor akibat tingginya curah hujan serta sistem drainase yang tidak berfungsi optimal.
Ketersediaan Air Jadi Perhatian Utama
Salah satu persoalan yang perlu diantisipasi adalah ketersediaan air selama masa peralihan musim. Ketika hujan belum turun secara konsisten, sumber-sumber air berpotensi mengalami penurunan debit, sementara kebutuhan masyarakat terhadap air bersih tetap berlangsung.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, BMKG merekomendasikan pemanfaatan air hujan serta penambahan kapasitas penampungan air di tingkat rumah tangga.
Selain itu, identifikasi lokasi yang berpotensi menjadi cekungan air tanah dan titik yang memungkinkan untuk pembangunan sumur bor perlu dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga ketersediaan air.
Pengelolaan drainase dan konservasi air secara berkelanjutan juga menjadi langkah penting agar sumber daya air dapat dimanfaatkan secara optimal, terutama ketika curah hujan belum mencukupi kebutuhan.
Langkah ini menjadi relevan bagi wilayah yang bergantung pada sumber air permukaan, termasuk kolong bekas tambang yang berpotensi dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air, sepanjang memenuhi persyaratan kualitas dan kelayakan penggunaannya.
Petani Diminta Menyesuaikan Jadwal Tanam
Mundurnya musim hujan juga berpotensi mengganggu aktivitas pertanian. Ketidakpastian ketersediaan air dapat memengaruhi waktu tanam dan meningkatkan risiko penurunan produktivitas tanaman.
Karena itu, BMKG merekomendasikan petani menyesuaikan jadwal tanam dengan kondisi cuaca serta memilih varietas tanaman yang memiliki siklus tanam lebih pendek.
Pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) juga perlu diperkuat untuk menjaga produktivitas pertanian di tengah perubahan kondisi cuaca.
Penyesuaian tersebut diharapkan dapat membantu petani mengurangi risiko kerugian akibat ketidaksesuaian waktu tanam dengan ketersediaan air.
Sementara pada sektor energi, pengelolaan aliran masuk air, elevasi waduk, dan pelepasan air perlu dilakukan secara proporsional untuk mendukung operasional pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Hujan Datang, Ancaman Bencana Berubah
BMKG turut mengingatkan bahwa mundurnya awal musim hujan dapat memperpanjang periode kering yang berisiko memperburuk kualitas udara dan meningkatkan potensi karhutla.
Kewaspadaan terhadap kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan perlu ditingkatkan, terutama pada September hingga Oktober, sebagaimana diingatkan dalam rekomendasi tersebut.
Namun, persoalan tidak berhenti ketika hujan mulai turun. Peralihan dari kondisi kering menuju musim hujan juga membutuhkan kesiapan menghadapi potensi bencana akibat curah hujan.
Optimalisasi sistem drainase, pemantauan wilayah rawan banjir, serta kesiapan jalur dan mekanisme evakuasi menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko bencana pada awal maupun puncak musim hujan.
Masyarakat juga diimbau tidak mengabaikan kondisi saluran air di lingkungan tempat tinggal. Drainase yang tersumbat sampah maupun sedimentasi dapat menghambat aliran air dan memperbesar risiko genangan ketika hujan turun dengan intensitas tinggi.
Kualitas Udara dan Kesehatan Tetap Diwaspadai
Selain ancaman kekeringan dan banjir, perubahan musim juga dapat berdampak terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.
BMKG merekomendasikan penyiapan mekanisme respons ketika kualitas udara memburuk. Optimalisasi sirkulasi udara di dalam ruangan juga diperlukan untuk menjaga kenyamanan dan mengendalikan kelembapan selama musim hujan.
Pada sektor kesehatan, pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan larvasidasi perlu ditingkatkan untuk mengantisipasi perkembangbiakan nyamuk yang dapat memicu peningkatan kasus demam berdarah dengue (DBD).
Fasilitas kesehatan juga diharapkan mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan meningkatnya penyakit yang berkaitan dengan genangan air maupun banjir.
Dengan demikian, kesiapsiagaan menghadapi musim hujan tidak cukup hanya dilakukan ketika hujan deras mulai mengguyur. Upaya pencegahan perlu dimulai sejak periode kering, termasuk menjaga kebersihan lingkungan, mengelola sumber air, dan memperbaiki saluran drainase.
Melalui enam rekomendasi tersebut, BMKG berharap pemerintah daerah, masyarakat, petani, dan berbagai pemangku kepentingan dapat mengambil langkah antisipasi sesuai dengan bidang masing-masing.
Perubahan musim perlu dihadapi dengan kesiapan sejak dini. Ketika hujan belum turun, ancaman kekeringan dan karhutla harus diantisipasi. Sebaliknya, ketika hujan mulai datang, kesiapan menghadapi banjir, tanah longsor, dan penyakit pascahujan tidak boleh diabaikan.
Bagi Bangka Belitung, kesiapsiagaan menghadapi peralihan musim menjadi penting agar perubahan kondisi cuaca tidak berkembang menjadi persoalan yang mengganggu kehidupan masyarakat, ketahanan pangan, maupun ketersediaan sumber daya air. (Yuda/Radak)
Tidak ada komentar