Foto : IlustrasiBANGKA BARAT, OKEYBOZ.COM – Belum genap sepekan menikmati kehidupan sebagai pasangan suami istri, rumah tangga Doni (40), warga Desa Belolaut, Kecamatan Mentok, Kabupaten Bangka Barat, sudah dihadapkan pada situasi yang tak terduga.
Sang istri, Suci, dilaporkan pergi meninggalkan rumah dua hari setelah pernikahan mereka dan belum diketahui keberadaannya hingga kini.
Saat diwawancarai pada Senin (26/10/2026) pagi, Doni yang akrab disapa Bendon menceritakan awal mula pertemuannya dengan Suci yang berawal dari perjodohan pada 16 September 2026. Kala itu, orang tua Suci menghubungi kakak perempuan Doni melalui pesan singkat WhatsApp untuk menjodohkan anak mereka.
“Saya kemudian dipanggil oleh kakak dan keluarga yang lain, ditanya mau atau tidak menikah karena ada perempuan yang bersedia. Saya mengiyakan,” kata Doni.
Sore harinya, Doni bersama keluarga besar pergi bersilaturahmi untuk menemui keluarga Suci. Setelah sempat berbincang ringan, kedua belah pihak sepakat untuk melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan.
Karena kedua calon mempelai sudah sama-sama cocok, orang tua Suci menyarankan agar pernikahan tidak ditunda terlalu lama.
“Pulang dari sana, kami langsung berembuk dengan keluarga. Keesokan harinya, orang tua calon istri saya menghubungi lagi dan meminta agar proses lamaran segera dilakukan pada Sabtu, 19 September 2026,” ujar Doni.
Pihak keluarga Doni sebenarnya sempat meminta kelonggaran waktu agar proses lamaran diundur ke hari Minggu malam demi mematangkan persiapan, termasuk untuk mencari barang-barang hantaran. Namun, proses tersebut berjalan di luar rencana awal keluarga pria.
“Tiba-tiba pada hari Jumat, mertua saya yang laki-laki langsung mengurus berkas-berkas pernikahan kami secara sepihak di kantor desa. Beliau juga langsung menetapkan tanggal pernikahan pada 27 September 2026, yang berarti minggu depannya,” ungkap Doni.
Keputusan sepihak tersebut sempat membuat pihak keluarga Doni terkejut lantaran kelengkapan administrasi dari pihak Puskesmas maupun Kantor Urusan Agama (KUA) belum diurus. Meski demikian, mereka memilih untuk mengikuti keputusan tersebut.
Saat acara lamaran berlangsung pada Minggu malam, ayah mertua Doni kembali menegaskan bahwa akad nikah akan tetap digelar pada Minggu, 27 September 2026. Pihak keluarga besar Doni sempat mempertanyakan kejelasan tanggal tersebut apabila belum mendapatkan persetujuan resmi dari pihak KUA.
“Kata ayah mertua saya, insyaallah bisa karena dia sudah berkoordinasi dengan penghulu dari KUA Kecamatan Mentok,” jelas Doni.
Keesokan harinya, tepat pada hari Senin, Doni baru mengurus seluruh berkas administrasi pernikahan di KUA serta menjalani tes kesehatan di Puskesmas. Seluruh proses administrasi tersebut rampung dalam satu hari, dan pihak penghulu menyetujui pelaksanaan akad nikah pada pukul 09.00 Wib karena jadwal pukul 08.00 Wib telah diisi oleh pasangan pengantin lain.
Namun, kendala kembali muncul pada hari Selasa. Tanpa adanya kompromi terlebih dahulu, ayah mertua Doni meminta kepada pihak penghulu untuk mempercepat jam pelaksanaan akad nikah menjadi pukul 07.30 Wib.
“Namun penghulunya tetap bilang tidak bisa, karena dia sudah ada janji dengan pasangan pengantin yang lain,” tambah Doni.
Karena penghulu berhalangan hadir pada jam tersebut, ayah mertua Doni berinisiatif untuk menikahkan sendiri kedua mempelai secara langsung. Pihak penghulu pun menyepakati hal itu karena dinilai masih sesuai dengan syariat Islam, dengan ketentuan penghulu akan datang menyusul untuk pengurusan berkas administrasi.
“Jadi pada hari H pernikahan, setelah ijab kabul selesai dilakukan oleh mertua, penghulu tiba usai menikahkan pasangan lain. Penghulu tinggal menandatangani berkas administrasi saja,” tutur Doni.
Setelah prosesi akad nikah selesai, acara dilanjutkan dengan resepsi pesta pernikahan yang menghadirkan hiburan musik organ tunggal sehari penuh hingga pukul 16.00 Wib.
Keluarga pihak laki-laki menyatakan telah mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk melangsungkan rangkaian acara pernikahan tersebut. Rincian biaya yang dikucurkan meliputi uang tunai sebesar Rp30 juta, mas kawin berupa cincin emas seberat 10 mata, serta berbagai barang hantaran seperti tempat tidur dan lemari. Jika ditotalkan, biaya yang dikeluarkan mencapai Rp95 juta.
Sehari setelah pernikahan, Doni mengaku suasana rumah tangga mereka masih berjalan harmonis dan diliputi kebahagiaan. Pada Senin malam, keduanya bahkan sempat pergi keluar rumah untuk berjalan-jalan membeli pakaian dan kebutuhan lainnya. Doni juga menyempatkan diri mengikuti ayah mertuanya ke sebuah majelis sebelum pulang ke rumah sekitar pukul 23.00 Wib.
Namun, perubahan sikap mulai terlihat pada keesokan harinya, Selasa (29/9/2026). Menurut Doni, sang istri mendadak bersikap agak cuek dan dingin. Siang harinya, Doni memutuskan pulang sebentar ke rumah orang tuanya untuk mandi karena jarak antarrumah yang terbilang dekat.
Saat sedang berbincang ringan dengan ibunya, Doni menerima pesan singkat dari istrinya yang mengajak pergi keluar. Alasan sang istri saat itu adalah ingin berbicara secara pribadi dari hati ke hati mengenai masa lalunya yang suram.
“Saya sempat jawab, di sini saja bicaranya di rumah ibu, kebetulan tidak ada orang lain juga. Tapi istri saya menolak. Dia tetap bersikeras mengajak berbicara di luar rumah dengan alasan cukup kami berdua saja yang tahu,” kata Doni.
Menuruti permintaan tersebut, Doni pun mengiyakan. Tidak lama berselang, sang istri kembali mengirimkan pesan memberitahu bahwa dirinya sudah siap dan meminta untuk dijemput. Doni segera menjemput Suci di rumah mertuanya, lalu mereka berboncengan menuju ke arah pantai.
Di tengah perjalanan, Suci tiba-tiba menanyakan keberadaan surat emas kawin pernikahan mereka. Doni menjawab tidak tahu pasti dan memperkirakan surat tersebut disimpan oleh ibu mertuanya. Saat ditanya alasannya, Suci mengaku ingin menukar motif cincin emasnya karena merasa kurang suka dengan model yang ada.
Setibanya di sebuah toko emas di daerah Mentok, mereka berhenti. Doni memilih menunggu di atas sepeda motor sementara istrinya masuk ke dalam toko.
“Saya tidak tahu saat itu apakah emasnya ditukar atau dijual, karena saya tidak terlalu memperhatikan. Lagipula memang ada dua cincin emas di jari istri saya,” jelas Doni.
Setelah urusan di toko emas tersebut selesai, keduanya melanjutkan perjalanan menuju ke Pantai Batu Rakit sekitar pukul 11.00 Wib. Di lokasi inilah, Suci secara mengejutkan membeberkan rahasia masa lalunya kepada Doni.
“Setibanya di Pantai Batu Rakit, istri saya bilang kalau dia sudah ada pria lain dan tidak bisa melupakannya sampai kapan pun. Dia juga mengaku pernah hamil tiga bulan namun digugurkan, serta sempat berhubungan intim dengan pria tersebut sebelum hari pernikahan kami,” kata Doni yang mengaku sangat terkejut mendengar pengakuan tersebut.
Mendengar hal itu, Doni langsung mengajak istrinya pulang dan meminta agar masalah tersebut dijelaskan secara langsung kepada orang tuanya. Namun, Suci menolak keras untuk pulang tanpa memberikan alasan yang jelas. Selama berada di atas sepeda motor, Doni juga melihat gelagat aneh karena istrinya terus-menerus sibuk bertukar pesan di ponselnya secara tertutup dengan alasan privasi.
Dalam kondisi bingung, Doni sempat mencoba menghubungi keluarganya sendiri namun belum mendapatkan respons. Karena tidak memiliki nomor kontak mertuanya, Doni akhirnya memutuskan pulang sendirian ke rumah orang tua Suci untuk melaporkan situasi tersebut dan mengabarkan bahwa Suci tertinggal di Pantai Batu Rakit.
Mendapat informasi itu, ibu mertua Doni segera bergegas melakukan penjemputan ke pantai. Namun, setibanya di sana, keberadaan Suci sudah tidak lagi ditemukan, sehingga sang ibu terpaksa kembali ke rumah dengan tangan kosong.
Doni kemudian pulang ke rumah keluarganya untuk merembuk kejadian tersebut bersama keluarga besar. Sekitar pukul 15.00 Wib, pihak keluarga pria kembali memastikan status keberadaan Suci kepada sang ayah mertua. Mendengar jawaban dari ayah mertua bahwa kejadian ini sudah dilaporkan ke polisi, pihak keluarga Doni sempat merasa tenang.
Malam harinya, Doni kembali mendatangi rumah mertuanya untuk menanyakan perkembangan informasi. Berdasarkan keterangan ibu mertuanya, Suci diduga berada di daerah Pasir Padi, Pangkalpinang.
Ayah mertua bersama rekannya pun telah bertolak ke Pangkalpinang untuk melakukan penjemputan.
Namun, titik terang belum juga ditemukan. Melalui pesan singkat pada keesokan harinya, Rabu (30/9/2026), pihak mertua mengabarkan bahwa Suci sudah tidak berada di Pangkalpinang dan gagal ditemukan.
Merasa ada yang janggal, keluarga Doni kemudian melakukan penyelidikan mandiri terkait laporan kepolisian yang sebelumnya diklaim telah dibuat oleh pihak mertua.
“Setelah kami selidiki, ternyata belum dilaporkan ke polisi secara resmi. Alhasil kami berinisiatif untuk melaporkan sendiri kejadian ini ke Polres Bangka Barat, namun sempat ditahan oleh ayah mertua dengan alasan malu,” ungkap Doni.
Keluarga Doni akhirnya memilih menunggu hingga seminggu kemudian, yakni sekitar tanggal 7 Oktober 2026. Karena tetap tidak ada kabar dan pihak mertua mengaku tidak memiliki nomor ponsel Suci yang bisa dihubungi, Doni kembali bergegas ingin melapor ke Polres Bangka Barat. Upaya ini lagi-lagi ditunda setelah ayah mertuanya meminta tempo waktu tiga hari lagi.
Setelah waktu yang diminta berlalu hingga empat hari tanpa ada kepastian, pihak mertua akhirnya mengaku pasrah dan menyatakan tidak mampu lagi untuk membawa Suci kembali pulang. Meski ibu mertuanya terus meyakinkan bahwa Suci akan pulang, Doni yang semula berusaha berpikir positif akhirnya kehilangan kesabaran karena tidak adanya kejelasan.
“Karena tetap tidak ada kabar, saya pun akhirnya mendatangi Polres Bangka Barat untuk membuat laporan resmi atas hilangnya istri saya,” tegas Doni.
Melalui laporan resmi ini, Doni berharap sang istri dapat segera ditemukan dalam keadaan selamat. Di sisi lain, ia juga menegaskan masih menunggu itikad baik dari pihak keluarga Suci mengenai kelanjutan hubungan pernikahan mereka.
Sampai berita ini diturunkan, Polres Bangka Barat tengah menindaklanjuti laporan resmi tersebut dan melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengungkap keberadaan Suci. (Dev/Radak)
Tidak ada komentar