Sejarah Tambang Bangka, Dari Sriwijaya Hingga PT. Timah Tbk

waktu baca 8 menit
Selasa, 13 Jul 2021 17:50 73 Admin

 

 

 

OKEYBOZ.COM – Indonesia adalah negara penghasil timah terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok. Sebanyak 20% – 30% pasokan timah dunia berasal dari Indonesia dan hampir 95% timah yang ditambang dan diproses di Indonesia berasal dari Provinsi  Bangka-Belitung (Babel).

 

Penambangan timah di Babel memiliki linimasa sejarah yang tidak singkat. Sejarah mencatat bahwa timah bangka setidaknya sudah menjadi komoditas ekspor sejak masa pendudukan Inggris di wilayah Kesultanan Palembang Darussalam—yang pada masa itu menguasai Kepulauan Babel—pada awal abad ke-19. Pada masa itu, timah Babel ditambang dengan teknik tradisional oleh masyarakat setempat menggunakan peralatan seadanya, seperti dulang, pacul, sekop dan cangkul.

 

Dilangsir dari duniatambang.co.id ada banyak bukti sejarah lain yang mengungkapkan bahwa timah Babel sudah digali dan dimanfaatkan sejak jauh sebelum itu. Jika benar demikian, lantas siapakah orang-orang yang pertama kali menambang timah di Babel, dan bagaimana dinamika tambang timah di Babel selama ini?

“Vanka”, Asal Nama Bangka
Dalam buku Pengaruh Kebudayaan India dalam bentuk Arca di Sumatera yang ditulis oleh Bambang Budi Utomo, arkeolog senior Indonesia, Kerajaan Sriwijaya pernah meletakkan prasasti kutukan mereka di Bangka. Prasasti batu bernama Prasasti kota Kapur tersebut bertahun 686 Masehi. Peletakannya di Bangka diduga merupakan bagian dari bentuk penaklukan Sriwijaya terhadap Bangka, yang pada masa itu menjadi pintu masuk ke pusat Kerajaan Sriwijaya di pedalaman Sungai Musi, Sumatera Selatan.

 

Namun Bambang Budi Utomo, penulis buku tersebut memiliki asumsi tambahan. Konon penaklukan Bangka oleh Sriwijaya juga berkaitan dengan penguasaan sumber daya timah. Prasasti Kota Kapur sendiri dibuat sebagai bentuk penertiban bagi masyarakat pribumi yang pada masa itu telah membangun pemukiman sendiri di Pulau Bangka, sehingga sangat mungkin jika timah Bangka sudah mulai digali oleh manusia penghuni Bangka sejak abad ke-7 saat prasasti tersebut ditulis.

 

Hal tersebut turut didukung dengan penemuan berbagai artefak kerajaan Sriwijaya di Kecamatan Cengal, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumsel pada kebakaran lahan gambut tahun 2018 lalu. Kebakaran lahan gambut tersebut menampakkan harta peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang ditaksir berasal dari masa Dinasti Yuan. Beberapa di antaranya berupa lempengan-lempengan timah yang ditulisi huruf sansekerta, berisi kutukan atau mantra. Temuan arkeologis ini memperkuat teori jika Kerajaan Sriwijaya sudah memanfaatkan keberadaan timah Babel untuk menciptakan media tulis, disamping serat kayu, gading dan kertas.

 

Pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Bahauddin, Bangka termasuk ke dalam wilayah kekuasaan Kesultanan Palembang.

 

Sultan menaruh perhatian esktra terhadap Bangka karena hasil timahnya merupakan komoditas yang cukup menguntungkan Palembang. Usaha Sultan Mahmud Bahauddin dalam memanfaatkan potensi tambang timah Bangka mendapat tantangan dari beberapa pihak, termasuk kaum lanun (perompak), kerajaan tetangga seperti Lingga, bahkan kongsi dagang Eropa seperti East India Company (EIC) milik Inggris dan Vereenigde Oost Compagnie (VOC) milik Belanda yang rakus.

 

Pada tahun 1722, VOC membeli timah Bangka dari Kesultanan Palembang dan membujuk Sultan Bahauddin untuk menjual timah Bangka kepada VOC secara monopoli. Inilah awal mula campur-tangan VOC dalam perdagangan timah dan lada di wilayah Palembang. Palembang menjual timah bangka dengan jumlah rata-rata 20.000 pikul (1 pikul = 62,5 kilogram) pada medio tahun 1730 – 1740. Tahun 1776, nilai transaksi tersebut meningkat seiring kontrak Palembang – VOC yang diperbarui, menjadi 30.000 pikul per tahun. Setiap pikul timah tersebut dihargai 13,5 ringgit di Palembang dan 15 ringgit di Batavia (Jakarta).

 

Kenyataannya, dalam realisasinya, VOC tidak pernah mendapatkan perolehan timah sesuai dengan nilai kontrak. Hal tersebut ternyata disebabkan oleh adanya penyelundupan timah oleh pegawai VOC itu sendiri kepada pihak lain. Mereka menjual timah selundupan kepada Inggris maupun Tiongkok yang rela membayar timah tersebut dengan harga lebih mahal. Timah pada saat itu adalah logam berharga yang jumlahnya sangat berlimpah di Bangka, sehingga penjualan secara monopoli kepada VOC agaknya tidak masuk akal bagi bangsa lain yang mencari timah, seperti Tiongkok. Kerajaan Tiongkok pada masa itu membutuhkan timah untuk membuat pembungkus tembakau, wadah penyimpan teh dan berbagai perabotan rumah tangga.

 

Selain Belanda, pihak lain yang terobsesi untuk menguasai timah Bangka adalah kaum lanun atau bajak laut. Kata lanun berasal dari kata “Illanun”, bangsa yang diduga berasal dari Moro atau Zulu di selatan Filipina. Setidaknya ada dua serangan lanun ke Bangka yang tercatat pada abad ke-18, yaitu pada tahun 1792 dan 1795. Pada masa yang sama, Kerajaan Lingga dari Kepulauan Riau juga pernah melancarkan dua serangan ke Bangka untuk menguasai tambang timah Bangka.

 

Kepemimpinan Sultan Muhammad Bahauddin pada masa ini benar-benar diuji dengan keberadaan pada penyerbu tersebut. Semua serangan lanun dan Kerajaan Lingga dapat dipatahkan oleh Kesultanan Palembang Darussalam, sehingga hegemoni timah Bangka masih dipegang oleh Palembang.
Pada tahun 1810, Inggris melalui Thomas Stamford Raffles mulai melakukan manuver untuk mendekati Sultan Palembang demi mendapatkan akses terhadap timah Bangka. Demi melancarkan tujuan tersebut, Raffles meminta Sultan Palembang (saat itu Sultan Mahmud Badaruddin II) untuk mendepak Belanda dan VOC dari Palembang, lalu mengalihkan monopoli timahnya kepada Inggris.

 

Raffles bahkan mengirimi sultan beberapa pucuk senjata untuk membantu sultan mengusir Belanda. Akan tetapi, Sultan Mahmud Badaruddin justru mengusir orang Belanda dari Palembang tanpa bekerjasama dengan Inggris, kemudian menolak permintaan Inggris untuk mengalihkan monopoli perdagangan timah kepada mereka. Atas tindakan sultan yang “berani” tersebut, Inggris pun menggempur Palembang pada 1812 dan memukul mundur Sultan Mahmud Badaruddin II ke pedalaman Sumsel.

 

Inggris kemudian mengangkat paksa Ahmad Najamuddin II, adik kandung Sultan Mahmud Badaruddin II sebagai sultan pengganti, lalu memaksanya untuk menandatangani perjanjian yang melepaskan Bangka untuk menjadi koloni Inggris, terhitung sejak Mei 1812.
Seiring dengan Konvensi London pada tahun 1814, Inggris pun diperintahkan untuk menyerahkan seluruh daerah kolonialnya di Hindia Belanda kepada Belanda. Namun hal akuisisi daerah jajahan tersebut agak macet untuk Bangka, mengingat obsesi Raffles untuk menduduki Bangka selama-lamanya sangatlah tinggi. Inggris baru menghentikan kolonialisasinya akan Bangka pada tahun 1816.
Namun alih-alih diberikan kepada Belanda, Bangka justru diambil kembali oleh Palembang.

 

Kesultanan Palembang memanfaatkan kekosongan kekuasaan di Bangka pada masa itu untuk memaksimalkan perdagangan timah secara terbuka tanpa ada monopoli dari pihak manapun. Belanda pun kembali ke Palembang untuk “menghukum” Sultan Mahmud Badaruddin II. Palembang dan Belanda sempat terlibat perang besar hingga 3 kali sejak tahun 1819 hingga 1821, sampai akhirnya Palembang kalah dan hak perdagangan dan pengolahan timah Bangka dipegang secara penuh oleh Belanda. Belanda kemudian mulai membangun pertambangan timah dan melakukan penambangan timah secara besar-besaran menggunakan teknologi mereka dan tenaga buruh tambang yang diimpor dari Tiongkok.

 

Masyarakat Tionghoa dalam “Kubangan” Timah Babel
Ada banyak masyarakat peranakan Tionghoa yang bermukin di wilayah Bangka dan Belitung saat ini, dan keberadaan mereka erat kaitannya dengan penambangan timah di masa lalu. Konon orang Tionghoa adalah kaum pertama yang melakukan penambangan timah di Bangka dan belitung.

 

Jejak paling jauh dari penambangan timah di Bangka bahkan dapat ditemukan pada alat penambangan tradisional yang berasal dari abad ke-5 yang saat ini disimpan sebagai inventaris Museum Timah Indonesia (MTI) di Bangka. Bukti fisik itu membuktikan jika penambangan timah di Babel sudah dilakukan jauh lebih dulu dari kedatangan Inggris dan Belanda di Bangka pada abad ke-18.

 

Proses pertambangan timah di Bangka dan Belitung itu sendiri berjalan di jalur yang berlainan. Pada 1668 dan 1672, seorang ondercoopman atau agen VOC yang bernama Jan De Harde mengunjungi kedua pulau tersebut, namun gagal menemukan sumber keuntungan komersial yang signifikan. Tambang-tambang timah di Bangka baru dibuka oleh Belanda ratusan tahun setelah itu.

 

Masyarakat Tionghoa baru mengambil peran yang lebih masif dalam penambangan timah Bangka pada awal abad ke-19. Belanda yang menduduki Palembang—termasuk Bangka yang saat itu berada di bawah kekuasaan Palembang—mendatangkan buruh tambang dalam jumlah besar ke Bangka dan Belitung yang seluruhnya merupakan orang-orang peranakan atau Tionghoa Hakka totok yang didatangkan dari empat bandar besar di Tionghoa  Selatan: Hongkong, Guangzhou, Xiamen, dan Shantou.

 

Mereka mendirikan pinyin (kongsi usaha atau serikat pekerja) berdasarkan kekerabatan (di Bangka) dan profesionalitas (di Belitung). Impor buruh itu menentukan komposisi etnik.

 

Pada 1865, ada sekitar 2 ribu kuli Cina yang bekerja di tambang-tambang timah di Belitung, dan tujuh tahun kemudian jumlah itu menjadi 4 ribu. Tahun 1920, terdapat hampir 29 ribu orang Tionghoa (42% dari populasi) di Belitung dan sebagian besarnya ialah kuli kontrak.

 

Para kuli tambang di Bangka pada umumnya tidak membawa istri saat mereka didatangkan ke Bangka, sehingga mereka menikahi penduduk bumiputera, baik penduduk asli Bangka, Jawa maupun Bali.

 

Dengan kata lain, Tionghoa di Bangka adalah masyarakat peranakan sebenarnya, yaitu penduduk dengan darah campuran Tionghoa dan pribumi. Sementara itu, Tionghoa di Belitung datang pada pertengahan abad ke-19 beserta istri-istri mereka. Mereka menjadi peranakan berdasarkan orientasi hidup, karena terjadinya asimilasi dan akulturasi budaya antara penduduk setempat dan pendatang Tionghoa tanpa melalui  perkawinan.

 

Contoh pembauran budaya tersebut terdapat pada cara berpakaian dan bahasa. Peranakan Tionghoa Bangka berbicara dengan bahasa Melayu-Bangka yang khas bercampur kata-kata dialek Hakka, sementara peranakan Tionghoa di Belitung berbahasa Hakka murni yang dibagi dalam “bahasa ibu” dan “bahasa ayah”, dimana kaum perempuan berbahasa ibu dengan nada khas dan bercampur bahasa Melayu dan lelaki berbahasa ayah atau Hakka murni.

 

Di Bangka, menurut Heidhues dalam Bangka Tin and Mentok Pepper (1992), buruh-buruh tambang itu didatangkan sejak tahun 1710. Pertambangan timah di Bangka dan di Belitung dikelola secara berbeda. Di Bangka, setiap awal tahun, para kuli timah menerima uang muka gaji. Sedangkan di Belitung para kuli dibayar hanya setelah mereka bekerja, sesuai hasil yang mereka peroleh.

 

Setelah bekerja selama tiga tahun, jika tak mempunyai utang, mereka berhak mengajukan diri untuk dipulangkan ke Tiongkok dengan biaya Maskapai. Belitung juga mendirikan rumah sakit untuk para pekerja jauh lebih dulu ketimbang Bangka. (**)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    error: Content is protected !!