PANGKALPINANG, OKEYBOZ.COM – Angka inflasi Kota Pangkalpinang pada tahun 2026 tercatat mencapai 4,1 persen secara tahunan (year-on-year), angka ini melampaui sasaran nasional yang ditetapkan sebesar 2,5 persen dengan batas toleransi satu persen ke atas maupun ke bawah.
Hal ini terungkap dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi dan Pembahasan Pertumbuhan Ekonomi Triwulan II Tahun 2026 yang diselenggarakan Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia secara daring, Senin (7/9/2026), bertempat di Ruang Smart Room Center Kantor Wali Kota Pangkalpinang.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kota Pangkalpinang, Juhaini, menjelaskan bahwa tekanan inflasi terbesar datang dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang menyumbang sebesar 2,06 persen. Komoditas utama pemicu kenaikan harga antara lain daging ayam ras, jasa angkutan udara, serta bahan bakar minyak.
“Kenaikan harga daging ayam ras memberikan andil terbesar sebesar 0,84 persen. Kemudian disusul oleh sektor angkutan udara sebesar 0,31 persen, dan bensin berkontribusi 0,23 persen,” papar Juhaini.
Kenaikan permintaan yang melonjak menjadi alasan utama mengapa harga pangan, khususnya daging ayam, mengalami lonjakan cukup signifikan. Hal ini terjadi beruntun mulai bulan Juli hingga Agustus.
Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam Setda Kota Pangkalpinang, Rico Ariputra, menambahkan bahwa pada bulan Juli bertepatan dengan masa masuk kembali sekolah para siswa, berbarengan dengan mulai beroperasinya puluhan Satuan Pengamanan Guna (SPG) di wilayah ini. Kegiatan tersebut mendorong permintaan tinggi terhadap kebutuhan pokok, terutama daging ayam.
“Memang saat SPG beroperasi, kebutuhan pangan dasar seperti ayam dan sayur-sayuran pasti meningkat tajam. Belum lagi pada bulan Agustus berlangsung tradisi Sembahyang Rebut, di mana kebutuhan bahan baku untuk persembahan dan perlengkapan upacara turut menyerap pasokan pasar,” jelas Rico.
Faktor lain yang tak kalah besar adalah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kota Pangkalpinang menjadi pusat rujukan perdagangan bagi warga dari berbagai wilayah sekitar, seperti Kabupaten Bangka dan desa-desa sekitar.
Masyarakat luar kota berbondong-bondong datang berbelanja ke Pasar Ratu Tunggal maupun Pasar Pagi Pangkalpinang. Akibatnya, stok barang yang biasanya cukup untuk warga kota saja, tiba-tiba tertekan oleh lonjakan permintaan dari luar daerah.
“Kebutuhan belanja warga sekitar yang masuk ke pasar kita, membuat pasokan yang biasanya seimbang tiba-tiba berkurang. Permintaan naik drastis, sementara pasokan belum sempat menyusul, sehingga harga otomatis bergerak naik,” ungkap Rico.
Kondisi ini menjadi catatan penting bagi Pemerintah Kota Pangkalpinang untuk segera menyusun strategi pengendalian harga, mulai dari menjamin kelancaran pasokan, menambah stok cadangan, hingga memperkuat koordinasi antar daerah guna menyeimbangkan kebutuhan dan ketersediaan barang di pasar.(OB/W*)
Tidak ada komentar