PANGKALPINANG, OKEYBOZ.COM – Anak-anak ikut datang, ember dibawa, pakaian kotor ditenteng. Begitulah pagi di Kolong Spritus. Saat sebagian warga memulai hari dengan air mengalir dari keran, warga lainnya masih harus datang ke kolong untuk mandi dan mencuci.
Di tempat itu, aktivitas warga berlangsung seperti rutinitas yang tak bisa ditawar. Air kolong menjadi tempat mandi, mencuci pakaian, sekaligus salah satu tumpuan kehidupan masyarakat dari sejumlah wilayah di sekitar Pangkalpinang.
Bukan karena air kolong menjadi pilihan utama. Justru sebaliknya, warga datang karena pilihan mereka semakin sedikit.
Musim kemarau yang mulai berlangsung membuat sumur-sumur warga perlahan kehilangan air. Bagi sebagian masyarakat Desa Padang Baru dan Kelurahan Air Itam, kekeringan bukan lagi sekadar perubahan musim, tetapi telah masuk ke dalam kehidupan sehari-hari.
Fauzan (41), warga Desa Padang Baru, mengaku sudah lebih dari sebulan meninggalkan sumurnya yang mulai mengering.
“Sudah satu bulan lebih mengandalkan Kolong Spritus. Sebelumnya kami mengandalkan sumur, karena sekarang sudah kering,” ujar Fauzan, Senin (21/9/2026).
Sejak itu, Kolong Spritus menjadi bagian dari rutinitas keluarganya.
Hampir setiap hari, sejak pagi hingga sore, Fauzan bersama warga lainnya datang ke lokasi untuk mencuci pakaian dan mandi.
“Setiap hari untuk cuci baju, mandi dan lain sebagainya di sini semua, dari pagi sampai sore,” katanya.
Di tengah keterbatasan sumber air, kolong bekas aktivitas pertambangan itu seolah berubah fungsi menjadi ruang publik tempat warga bertahan menghadapi kemarau.
Namun di balik manfaatnya, tersimpan persoalan lain. Air kolong tidak digunakan warga untuk kebutuhan konsumsi. Untuk minum, mereka harus membeli air.
Artinya, ketika sumber air alami di sekitar rumah mengering, kebutuhan paling dasar itu justru harus diperoleh dengan biaya tambahan.
Sumur Wakaf dan Antrean Panjang
Kondisi serupa dirasakan Hidayat (50), warga Kelurahan Air Itam.
Menurut Hidayat, dirinya sudah memanfaatkan Kolong Spritus sejak sekitar Juni 2026. Hampir tiga bulan lamanya, kolong tersebut menjadi tempat warga mencuci pakaian dan mandi.
“Sudah tiga bulan yang lalu, dimulai dari bulan Juni sampai sekarang,” ujarnya.
Ia mengatakan, kekeringan membuat keberadaan Kolong Spritus sangat berarti. Tidak hanya warga Air Itam, tetapi juga masyarakat dari Sinar Bulan dan Padang Baru.
“Kolong ini sangat membantu karena sumur-sumur banyak yang sudah kering semua. Kami dari Kelurahan Air Itam mencuci baju dan mandi di sini,” katanya.
Menurut Hidayat, Kolong Spritus kini dimanfaatkan warga dari tiga wilayah.
“Kolong ini diperuntukkan untuk tiga desa, yaitu Sinar Bulan, Air Itam, dan Padang Baru. Semuanya di sini,” ujarnya.
Namun untuk air minum, warga harus mencari sumber lain.
Sebagian warga Air Itam mengandalkan sumur wakaf. Masalahnya, ketika banyak sumur rumah tangga mengering, sumur wakaf pun menjadi tumpuan bersama.
Akibatnya, antrean tidak hanya terjadi sekali dalam sehari.
“Pagi-pagi subuh sudah ngambil air, kadang siang, sore dan malam itu pun antre,” ungkap Hidayat.
Air yang biasanya cukup diambil dari sumur sendiri kini harus diperjuangkan bersama-sama.
Bagi warga RT 07 Kelurahan Air Itam, situasinya disebut lebih berat. Sebagian besar sumur warga di kawasan tersebut mulai mengering dan sumur wakaf menjadi salah satu sumber utama untuk kebutuhan minum.
“Daerah kami itu hampir semuanya kering di RT 07. Hanya sumur wakaf itu jadi andalan kami untuk air minum,” tuturnya.
Kolong Menjadi Tumpuan, Tetapi Bukan Solusi
Kolong Spritus memang memberikan sedikit ruang bernapas bagi warga. Setidaknya, mereka masih memiliki sumber air untuk mandi dan mencuci.
Tetapi kondisi tersebut juga memperlihatkan satu persoalan yang lebih besar. Ketika kemarau datang, sumber air masyarakat semakin terbatas.
Warga tidak sedang memilih hidup dengan air kolong. Mereka sedang menyesuaikan diri dengan keadaan.
Fauzan bahkan mengingatkan agar masyarakat tetap berhati-hati ketika menggunakan kolong tersebut, terutama orang tua yang membawa anak-anak.
Kolong memiliki bagian yang cukup dalam sehingga aktivitas mandi dan bermain anak-anak harus diawasi.
“Walaupun musim kemarau tetap harus hati-hati, khususnya anak-anak yang mandi di sini. Karena kolong ini dalam, jadi harus tetap waspada,” katanya.
Di tengah keterbatasan itu, warga masih mengingat bantuan air bersih yang pernah mereka terima tahun sebelumnya.
Fauzan mengatakan, pada tahun lalu masyarakat Desa Padang Baru sempat mendapatkan bantuan air bersih dari pemerintah melalui Brimob.
Namun memasuki kemarau tahun ini, bantuan serupa belum kembali diterima.
“Tahun lalu ada bantuan dari pemerintah untuk air bersih. Untuk tahun ini belum ada di Desa Padang Baru. Tahun lalu bantuan air bersih diberikan oleh Brimob,” ujarnya.
Kini, harapan itu kembali diarahkan kepada Pemerintah Kota Pangkalpinang.
Hidayat berharap distribusi air bersih dapat diberikan kepada kawasan yang masyarakatnya mulai kesulitan mendapatkan air.
“Itulah harapan, kalau ada bantuan air bersih bagi pemerintah Kota Pangkalpinang mau juga disalurkan,” katanya.
Ketika Air Menjadi Perjuangan
Bagi sebagian orang, membuka keran dan mendapatkan air mungkin merupakan sesuatu yang sederhana.
Tetapi bagi warga Padang Baru, Air Itam dan Sinar Bulan, musim kemarau membuat air berubah menjadi sesuatu yang harus dicari, dibawa pulang, bahkan harus diantre sejak subuh.
Kolong Spritus menjadi saksi bagaimana masyarakat beradaptasi ketika sumur-sumur mulai kehilangan air.
Pemandangan warga mencuci pakaian di tepian kolong bukan sekadar aktivitas harian. Di balik ember dan pakaian yang dibilas, ada cerita tentang keluarga yang sedang bertahan.
Ada pula cerita tentang ibu dan bapak yang harus mencari air untuk kebutuhan rumah tangga, tentang warga yang harus membeli air minum, serta tentang sumur wakaf yang kini diperebutkan antreannya karena menjadi sumber kehidupan bersama. Kekeringan akhirnya tidak hanya membuat tanah menjadi kering.
Ia juga mengubah rutinitas, menambah beban pengeluaran dan membuat masyarakat harus mencari cara agar kebutuhan paling mendasar tetap terpenuhi.
Dan di Kolong Spritus, di tengah air yang masih tersisa, warga menemukan satu hal yang sangat mereka butuhkan, yakni kesempatan untuk tetap menjalani kehidupan ketika sumber air di rumah mereka menghilang perlahan (Radak)
Tidak ada komentar